8/31/14

Diskriminasi Sandal Jepit


Belum ada dari sekian banyak acara, baik formal atau pun non formal yang elite, di undangan tertulis dresscode menggunakan sandal jepit. Sandal jepit cuma bisa dipakai hanya di dapur, atau paling banter pas acara tahlilan di masjid. Bukan, bukan karna di agungkan lantaran mau ke rumah Allah, tapi memilih sedikit resiko kerugian yang diterimanya kalau sampai harus kehilangan. Saya yakin yang tidak munafik akan mengiyakan hal ini, hehe... Sandal jepit memang di nomor dua, tiga, empat, bahkan sampai di sekiankan setelah sandal-sandal dan sepatu lain yang bermerek dengan harga yang tentunya juga jauh lebih mahal.

Entah siapa yang memulai menstratakan jenis sendal ini. Memang, hampir semua jenis benda apa pun di dunia ini berjenjang dikelompokkan berdasar
harganya. Semakin mahal harga suatu barang, maka semakin berkelas orang yang memilikinya. Rumah, mobil, motor, sampai sekelas sendal yang letaknya di paling bawah dan (meski) diinjak-injak sekalipun diderajadkan berdasarkan harga. Padahal, belum tentu yang berbaju mahal atau bermobil mewah itu orang yang kaya. Juga sebaliknya, orang yang ke mana-mana cuma pakai sarung justru berduit banyak, siapa yang tau. Tapi ya itu, pola pikir kita sudah terbiasa atau mungkin juga didoktrin dengan ungkapan jawa, "Ajining raga saka busana", bahwa menilai raga seseorang dari pakaian yang dikenakannya. Dan lagi-lagi, saya kurang setuju dengan ungkapan ini. Tidak semua orang yang berpakaian urakan berhati urakan, juga siapa yang menjamin orang yang berdasi, berhati baik? :)

Hmm.. Kembali ke sandal dan kroninya. Kalau dua orang perempuan, yang satu pakai high heels, dan satunya pakai sandal jepit, memang untuk dilihat, yang makai high heels terlihat lebih anggun dan gimana gitu.. Tapi, kalau  ke duanya disuruh balapan jalan satu kilometer saja. Saya berani menjamin, kalau yang memakai hak tinggi akan menyerah sebelum sampai finish. Iya, dari segi kenyamanan, jelas tidak bisa dilawan sang sandal jepit ini. :)

Dari segi fleksibelitas, sandal satu ini juga sangat bisa diandalkan. Kondisi basah, kering, becek, tandus, dan segala macam cuaca, tanpa mengganti pun, bisa selalu dipakai. Coba makai sepatu mahal, saat kehujanan, pasti dicopot dulu, trus dibungkus deh itu sepatu, apalagi menemui jalan yang berlumpur.

Mungkin, tak sebaiknya kita merendahkan apa dan siapa pun di dunia ini. Termasuk ke sandal jepit. Betapa sudah banyak jasanya yang sudah kita gunakan dan rasakan manfaatnya.

Siapa yang tau kalau pendapatan pabrik sandal jepit melebihi pabrik sandal-sandal bermerek lainnya? Entahlah. Tetapi yang jelas, tidak semua sandal atau sepatu yang bermerek dan berharga mahal  dimiliki setiap orang. Namun, di setiap rumah sudah pasti ada yang namanya sandal jepit. Salam jepit.

5 comments:

  1. Sendal seribu umat, tak akan prnah hilang di mkn zaman :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emm... seribu ya? Lebih deh kayaknya :D
      Iya bener banget tuh, mungkin jadi benda yg perlu dilindungi. :)

      Delete
    2. kata "Seribu umat" itu kiasan yg brarti sudah banyak org yg menggunakannya hehe :-D

      Delete
    3. Huehehe...
      BTW makasih yaa, sudah sudi mampir :). *kayak nama warung sepertinya*

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete