Showing posts with label Bapak. Show all posts
Showing posts with label Bapak. Show all posts

9/24/19

Nyatus



Sudah 100 hari Bapak kapundhut. Waktu yang bisa dibilang baru sebentar, bisa juga dianggap cukup lama. Yang jelas selama ini, sampai 100 hari ini, terkadang saya benar-benar lupa jika Bapak memang sudah berada di alam kubur. Saya tiba-tiba selintas mau menelpon atau sms Bapak. Jadi di otak saya muncul "Oh, iya, sudah lama nih, belum nelpon/sms Bapak," lalu buka HP. Tapi dalam hitungan detik juga teringat sendiri kalau Bapak memang sudah kapundhut.

Dan biasanya setelah itu, langsung teringat masa-masa di mana saya masih sepenuhnya berinteraksi langsung dengan Bapak.

Tak bisa dipastikan kapan ingatan saya tiba-tiba muncul memori tentang Bapak. Bisa saat saya sedang sendiri, bisa juga saat saya bersama orang lain. Bisa saat sedang mencuci, nyetrika, atau lagi di jalan saat melihat suatu peristiwa. Seringnya memang saat setelah sholat, juga saat melakukan aktifitas bersama Frea. Mungkin lebih karena sama-sama berkaitan/hubungan bapak-anak.

Misalnya saat

7/25/19

Bapak IV



Saya sadar, saya bukanlah tipe orang yang bisa ngobrol lama dengan orang lain, apalagi yang tak sefrekuensi. Juga dengan Bapak. Meski hubungan antara Bapak dengan anak bukanlah masalah sefrekuensi atau tidak. Banyak hal yang tak saya omongkan ke Bapak, tapi beliau tau. Apa yang masih ada di dalam hati dan baru berniat untuk mengatakannya ke Bapak, beliau sudah bisa menebaknya.

Sebagai seorang anak, apa-apa yang sekiranya tak mengenakkan hati saya, juga khususnya Bapak, inginnya saya menyembunyikannya dari Bapak. Saya tak ingin membebankan pikiran Bapak. Saya tau perasaan seorang Bapak jika tau anaknya tak bahagia. Namun tanpa diceritakan pun, besar kemungkinan Bapak tau jika anaknya sedang ada masalah.

Bapak juga tipe orang yang sama. Beliau tak ingin membebankan masalah ke orang lain. Sebisa mungkin, apa-apa yang sedang dihadapinya, diselesaikannya sendiri, tanpa membebankan kepada orang lain. Termasuk saat beliau menahan sakit yang dideritanya.

Sebenarnya sebelum Bapak difonis sakit, perubahan fisik Bapak sudah terlihat. Tubuhnya makin kurus. Melihat perubahan fisik Bapak tersebut, saya berkali-kali mengajak Bapak untuk mengecek kesehatannya. Tapi berkali-kali pula Bapak menolaknya. Tak hanya anak-anaknya yang meminta Bapak untuk periksa, teman dan para tetangga di rumah pun berkali-kali juga membujuknya. Tapi ya itu, Bapak adalah tipe orang yang tak ingin menyusahkan orang lain. Beda dengan saya yang sudah banyak menyusahkan orang lain.

Begitu banyaknya orang-orang yang sangat peduli dan menyayangi Bapak. Ini terlihat selama Bapak sakit. Begitu banyak orang yang menjenguk Bapak, entah pada waktu di rumah maupun saat berada di rumah sakit. Juga terlihat saat Bapak kembali padaNya. Begitu banyak orang-orang yang datang melayat Bapak.

Dari setiap peristiwa, ada hal yang bisa kita ambil untuk dijadikan pembelajaran. Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Untuk Bapak, Al Fatihah....
(19 Juni 2019)

Bapak III



Puasa dan lebaran tahun ini adalah kali pertama tanpa ditemani Bapak, setelah beliau kapundhut dua hari menjelang ramadhan sebulan lalu.

Apa yang paling membekas dari Bapak saat ramadhan adalah cara membangunkan saya ketika sahur. Meski agak keras, intonasi suaranya tak mungkin akan terlupa di otak saya. Juga nada ketika beliau ndarus. Nada mengaji yang begitu khas. Saya menyesal karna tak sempat merekamnya.

Ada kenangan lain saat bulan puasa dengan Bapak yang sampai saat ini masih berkesan. Kejadiannya saat saya masih SD. Entah kelas berapa. Di kampung saya waktu itu, tiap ngabuburit, anak-anak pada sepedaan ke bendungan yang jaraknya kira-kira tiga kiloan meter. Ya, lumayan jauh memang. Tapi itulah satu-satunya obyek yang paling menarik kami untuk mendatanginya.

Sebelum berangkat, Bapak selalu berpesan agar sebelum beduk Maghrib harus sudah sampai di rumah. Layaknya anak-anak, keasyikan bermain bisa melupakan segalanya, terutama waktu. Karena masalah itu, saya dimarahi Bapak. Padahal hanya selang beberapa menit setelah adzan. Kini saya tau kekhawatiran seorang orang tua terhadap anaknya.

Ini adalah kenangan foto-foto bapak lebaran tahun lalu. Di mana beliau masih bisa membuatkan taman kecil untuk bermain cucu-cucunya, bersilaturahmi dengan saudara, bercanda dengan anak-cucunya, juga masih bisa mendoakan hal-hal yang terbaik untuk anak-anaknya.
(6 Juni 2019)

Mudik



Tradisi unik nan baik yang barangkali cuma ada di negri kita. Tak hanya itu, ia juga menggembirakan.
.
Tak bisa dipungkiri, dalam mudik, membutuhkan pengorbanan yang amat besar. Makin jauh jaraknya, makin banyak pengorbanan yang dikeluarkan. Tenaga, materi, dan waktu. Minimal 3 elemen itu. Meski begitu, rasanya tak ada orang yang bilang kapok untuk mudik. Mereka bergembira ria bertemu handai taulan.

Saya jadi ingat saat mudik masa kecil dulu. Di mana keadaan sistem transportasi di Indonesia begitu buruk. Terutama untuk jalur darat. Anda yang pernah merasakan itu, pasti setuju.
.
Saya ingat benar perjuangan Bapak ketika harus berdesak-desakan demi mendapatkan tiket (entah bis atau kereta). Tak jarang ketika berdesak-desakan itu badannya kesiku atau kakinya terinjak-injak.
.
Sudah dapat tiket pun, untuk masuk ke dalam bis atau keretanya masih harus berdesak-desakan, karena berebut untuk mendapatkan kursi agar tak berdiri selama di perjalanan. Saya pernah merasakan naik kereta sampai harus tidur beralaskan koran di lantai kereta. Itu pun jadwalnya mundur berjam-jam. Berangkat dari Pekalongan sekitar jam 8-an pagi, sampai Solo jam 2 pagi lagi. Dulu belum ada

Bapak II



Kenangan terakhir saya bersama Bapak adalah malam saat menunggui beliau. Begitu tersadar dari tidurnya yang lumayan lama, beliau menanyakan “Jam pira?”. Dari mulutnya terucap istighfar berkali-kali, lalu tayamum dan sholat. Tampak sekali beliau lemas. Barangkali karna dua malam sebelumnya beliau terjaga, tak bisa tidur. Masih dalam posisi sholat, Bapak tertidur.
.
Tidak lama, Bapak bangun lagi. Satu hal yang diminta beliau adalah meminta saya mengambilkan tasbih dan HP untuk melihat jam. Saya menjawab, mengiyakan untuk minta dibawakan adik yang di rumah untuk membawakannya besok pagi. Lalu saya menawari Bapak untuk makan dan meminum obatnya. Bapak mau. Setelah itu, beliau tertidur lagi. Dalam hati saya bersyukur Bapak bisa istirahat. Efeknya, keesokan harinya kondisi Bapak alhamdulIllah membaik.
.
Paginya ada Pakdhe, Budhe, dan beberapa putranya (sepupu saya) yang menjenguk. Di saat itu, beliau malah sudah bisa ngobrol dan guyon, meski cuma sebentar. Itu artinya memang kondisi Bapak makin membaik. Tapi semua kembali kepada Allah, Maha Mengetahui yang mengatur segalanya.
.
Gambar ini mungkin tak sempurna, tapi cintamu untuk anak-anakmu sungguh sempurna. Itu yang saya rasakan.

Terima kasih, Pak. Al Fatihah....

#Bapak : 23 Feb 1954 - 3 Mei 2019
(30 Mei 2019)

Bapak



Hampir setahun Bapak berjuang menahan sakitnya. Tak pernah putus asa sedikitpun. “Yaa ora pa-pa, sing penting sehat,” begitu kata Bapak setiap ada teman beliau yang datang menjenguk dan menyemangati Bapak. Apa pun Bapak bersedia melakukan, demi kesembuhannya. Termasuk ketika diharuskan untuk cuci darah dua kali dalam seminggu sejak Agustus tahun lalu (2018).

Saya selalu ingat, setiap kali habis menjenguk Bapak, saat pamitan ke beliau, kata-kata yang selalu saya ucapkan setelah salim mencium tangan dan kening beliau, sebelum mengucap salam, adalah “(Yang) Kuat nggih, Kung.” Seringnya, beliau hanya diam, lalu menjawab salam.

Begitu pun hari itu. Saya pamit kepada Bapak yang masih terbaring di rumah sakit, untuk kembali ke Semarang karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan, dan bilang kalau lusa akan kembali lagi. Saya berani meninggalkan Bapak karena kondisi beliau semakin membaik. Bapak sudah bisa bercanda lagi ketika ada saudara yang menjenguk. Saya tak menyangka kalau itu adalah pertemuan saya yang terakhir sebelum akhirnya Bapak kembali kepadaNya (3 Mei 2019).

Sugeng tindak, Pak. Berbahagialah di sana. Maafkan semua salah saya. Dan semoga saya tak pernah lupa mendoakanmu.

Untuk Bapak (Suroso bin Tjahyo), Al Fatihah....
(20 Mei 2019)


7/17/19

Putri Malu



Terkadang saya sering mempertanyakan tentang nama suatu benda kenapa benda itu dinamai begitu. Kenapa teko dinamai teko? Kenapa keadaan gelap tanpa sinar matahari dinamai malam? Dan masih banyak pertanyaan lagi.

Atau barangkali Allah-lah yang menamainya secara langsung dengan perantara nabi, rasul, dan para waliNya? Mungkin.

Untung manusia diciptakan sebagai makhluk yang mudah menerima. Jika tidak, maka semua akan menjadi ruwet. Menjadi masalah yang tak berkesudahan. Adakah manusia-manusia ruwet itu?

Mereka para pemikir adalah orang-orang dengan pemikiran yang demikian ruwet. Semua hal dipikirkannya sedemikian hingga menjadi ruwet, meski hal sederhana sekalipun. Namun terkadang juga menjadikan hal-hal yang kita anggap ruwet, menjadi sederhana.

Saya mengenal putri malu ketika ia sudah dinamai putri malu oleh si pemberi nama, dan sudah diamini oleh banyak orang. Maka saya juga tinggal mengamininya saja. Toh ia bukan dosa.

Bapak sayalah orang yang telah mengenalkan saya dengan putri malu. Dengan penuh antusias