Showing posts with label #tentangFrea. Show all posts
Showing posts with label #tentangFrea. Show all posts

9/24/19

Nyatus



Sudah 100 hari Bapak kapundhut. Waktu yang bisa dibilang baru sebentar, bisa juga dianggap cukup lama. Yang jelas selama ini, sampai 100 hari ini, terkadang saya benar-benar lupa jika Bapak memang sudah berada di alam kubur. Saya tiba-tiba selintas mau menelpon atau sms Bapak. Jadi di otak saya muncul "Oh, iya, sudah lama nih, belum nelpon/sms Bapak," lalu buka HP. Tapi dalam hitungan detik juga teringat sendiri kalau Bapak memang sudah kapundhut.

Dan biasanya setelah itu, langsung teringat masa-masa di mana saya masih sepenuhnya berinteraksi langsung dengan Bapak.

Tak bisa dipastikan kapan ingatan saya tiba-tiba muncul memori tentang Bapak. Bisa saat saya sedang sendiri, bisa juga saat saya bersama orang lain. Bisa saat sedang mencuci, nyetrika, atau lagi di jalan saat melihat suatu peristiwa. Seringnya memang saat setelah sholat, juga saat melakukan aktifitas bersama Frea. Mungkin lebih karena sama-sama berkaitan/hubungan bapak-anak.

Misalnya saat

3th



Pagi tadi, saat saya nyetrika, Frea dibangunkan ibunya. Sembari mengumpulkan nyawa, dia tiduran di pangkuan ibunya sambil memeluk koala. Kami mengajaknya bicara agar dia benar-benar terbangun. Setelah sadar, seperti biasa, ritual pasca bangun tidur adalah meminta susu.

Jika setiap sebelum tidur, saya yang harus membuatkan susunya, maka setelah bangun tidur adalah ibunya yang selalu menyiapkan, dan Frea tak pernah mempermasalahkannya. Namun itu tak berlaku pagi tadi. Frea dengan tegas meminta saya untuk membuatkan susunya.

“Pak, mimik tutu. Bapak yang buat!”

“Siapa yang buatin, Fre?” tanya saya meyakinkan.

“Bapak.”

“Bapak apa Ibu?”

“Bapaaak. Cium dulu.”

Maksudnya adalah meminta saya menciumnya sebelum membuatkan susu, karna memang biasanya setiap malam, sebelum membuatkan dia susu, saya menggodanya dengan meminta dicium untuk energi jalan ke dapur.
Kalau sudah mendengar kata yang terakhir itu, saya geli dan langsung luluh. Dengan gemas saya menciumnya sambil menerka kenapa dia meminta begitu?

Saya ingat, kemarin

8/5/19

Sapi



Memelihara hewan di rumah, katanya bisa membentuk anak menjadi lebih peka rasa empatinya. Tentunya Ini baik untuk perkembangan Frea. Namun kami tak punya hewan piaraan satu pun. Tapi kami tetap harus mengasah kepekaan Frea. Maka kami mengakalinya dengan membelikan dia mainan boneka yang berbentuk hewan. Beberapa boneka hewan sudah jadi temannya. Panda, kelinci, gajah, koala, anjing, dan beberapa boneka hewan lain. Tentunya boneka hewan-hewan itu kami beli satu per satu sesuai budget.

Setiap hari kami ajak mengobrol mereka bersama Frea seolah boneka hewan-hewan itu benar-benar benyawa. Tanya nama, nawari makan, memintanya tidur, serta mengobrol hal-hal yang spontan terlintas saat itu. Tentunya obrolan yang baik yang kami contohkan sehingga empati Frea terbentuk.

Dampak lainnya, ternyata Frea menjadi anak yang suka bermain peran. Imajinasinya bermacam-macam. Saya selalu geli setiap melihat Frea mengajak teman-temannya itu mengobrol. Selalu saja ada hal lucu dari sana.

Saat awal-awal punya sapi, dia

Kontrol


Baru kemarin dipuji, hari ini sudah membuat ulah lagi. Frea menolak lagi untuk minum obat. Sekuat pikiran, kami menegosiasinya.

“Ini kalau Frea minum obatnya baik, nanti di tempat periksa boleh mainan perosotan,” bujuk ibunya. 

Di ruang tunggu RS memang ada tempat khusus mainan anak-anak. Saat periksa pertama, dia memang senang sekali mainan di sana. Namun dia tetap menolak.

“Kalau ndak mau minum obat, ya berarti nanti di sana tidak boleh mainan,” lanjut ibunya.

“Mau maen.”

“Boleeeh, ini minum obatnya dulu yang baik.”

“Ndak mau.”

Karena waktu yang mendesak, dan agar bisa

Minum Obat



Mulai hari Sabtu siang (6 Juli 2019) suhu tubuh Frea naik turun. Hari Seninnya kami putuskan membawanya ke dokter keluarga karena suhu tubuhnya yang masih naik turun meski volume minum Frea sudah ditambah. Dokternya meminta kami untuk mengecekkan lab darah Frea. Dan malam itu juga hasilnya saya konsultasikan.

Hb-nya turun dan ada gejala tipes katanya. Maka kemudian Frea dibuatkan rujukan ke dokter spesialis anak untuk penanganan lanjutan. Esoknya kami membawa Frea ke dokter anak dengan menunjukkan hasil lab. Frea diperiksa. Ada radang juga di tenggorokannya. Untungnya tidak sampai rawat inap. Dokter hanya memberikan resep obat dan meminta kami kembali 3 hari lagi untuk kontrol.

Begitu terima obat, saya langsung bingung. Apa yang ada di pikiran saya adalah bagaimana meminumkan obat-obat itu ke Frea? Saya sudah pernah cerita di postingan sebelumnya kalau Frea tipe anak yang susah sekali untuk meminum obat, bahkan ketika obat itu sudah ditelan sampai perut, dia bisa memuntahkannya. Saya benar-benar kepikiran. Padahal obat itu ada yang harus dihabiskan agar bisa sembuh.

Benar. Kekhawatiran saya  terjadi saat kali

Baik 2



Membiasakan baik dan benar ke anak (meski saya—orang tuanya tak baik-baik dan tak benar-benar amat) adalah suatu keharusan dan kebiasaan yang kami terapkan ke Frea sejak dia lahir. Pun saat dia belum bisa apa-apa. Misalkan saat menyuapi dia makan waktu bayi, kami memintanya berdoa terlebih dulu meski kami—sebagai orang tua—juga  yang mengucapkan tentunya.

Kami pun selalu mengajaknya bicara sejak masih bayi setiap hari, sampai sekarang. Sesibuk apa pun, setiap hari kami harus selalu berkomunikasi dengan Frea. Kami ingin agar Frea selalu dekat dengan orang tuanya, khususnya saya, karena kalau dengan ibunya, sudah otomatis nempel. Saya tak ingin menjadi bapak yang tak dikenali anaknya sendiri.

Barangkali banyak orang yang menganggap bayi hanyalah bayi. Anak kecil yang belum tau apa-apa. Saya malah sebaliknya. Terkadang saya berfikir bahwa bayilah yang tau tentang segala hal dalam otaknya. Tau tentang masing-masing sifat orang, tau nama semua benda tanpa ada orang lain yang memberi tau, intinya tau segalanya. Hanya saja dia belum diberi kemampuan untuk bicara (kalau saya bilang:

Ngobrol



Kemarin malam (2 Juli 2019) Frea ke dokter gigi lagi. Misi ke-dua penambalan giginya. Tak seperti biasanya, sore itu pasiennya lumayan banyak. Frea mendapat antrean ke 10. Akhirnya kami pulang dulu untuk sholat maghrib di rumah. Jam 7 kurang, kami kembali ke sana.

Di ruang tunggu, sudah ada 5 orang. Frea adalah satu-satunya anak kecil di sana. Beberapa orang tertarik pada Frea karena sampai di sana Frea tak bisa diam. Dia menanyakan beberapa hal ke saya dan ibunya. Mungkin juga karena pada dasarnya mereka memang suka pada anak kecil.

“Umur berapa, Mas?” tanya seorang ibu yanga da di sana.

Tadinya mau saya jawab umur saya, tapi tidak jadi. Tak mungkin dia tanya umur saya. Pasti maksud dari pertanyaannya menanyakan usia Frea. “Mau 3 tahun, Bu. Dua bulan lagi.”

“Oh. Tapi kok ngomongnya pinter banget, ya. Mudhengan anaknya. Kaya cah gedhe.” Lanjut si ibu tadi.

“Oh, iya dong, Bu. Siapa dulu bapaknya.” Jawaban itu saya

7/25/19

Toilet Lagi



Sudah saya ceritakan kapan kami melakukan toilet training ke Frea. Ya, semenjak dia berumur dua tahun, setiap kami libur, atau kalau ibunya libur, Frea sengaja tidak dipakaikan popok agar terbiasa pipis di kamar mandi atau di WC.

Awalnya sulit juga memberitaunya, kalau sebelum pipis, bilang dulu, untuk segera diefakuasi ke kamar mandi. Berkali-kali kami kebobolan, Frea pipis di tempat di mana ia bermain. Kami terus mendoktrinnya bahwa sebelum pipis, dia harus bilang dulu. Akhirnya, ketika 2 tahun 4 bulan dia bisa bilang ketika akan pipis. Masalahnya, sampai sekarang, dia malas bilang saat akan buang air besar, juga selalu ngompol saat tidur.

Frea dengan ibunya itu punya kedekatan yang aneh menurut saya. Atau barangkali ini terjadi pada semua anak dan ibunya? Jadi dia itu takut sama ibunya ketika dikasih tau sesuatu ketika melakukan suatu kesalahan, tapi tak sampai dua menit, sudah bisa tertawa kembali bersama lalu berpelukan. Dan bahkan setiap kali ada sesuatu, yang dicari pertama kali adalah ibunya, entah saat mau tidur, atau ketika bangun tidur.

Suatu saat, ia tidur

Perajuk



Masalah lain selain anak tak mau menurut apa yang diperintahkan, salah satunya adalah ketika anak meminta sesuatu. Banyak orang tua yang saya lihat 'kalah' dengan kemauan anak. Sehingga setiap si anak minta sesuatu, selalu harus dipenuhi sebagai penyelesaiannya. Tanpa memperhitungkan dampaknya setelah itu.

Terkadang saya gemas juga setiap melihat langsung kejadian ini terjadi. Di satu sisi saya bersyukur punya anak yang (mudah-mudahan) tak sampai seperti anak lain yang apa-apa harus dipenuhi keinginannya. Di sisi lain juga kasihan sama orang tua yang harus seperti itu dalam mengurus anaknya. Di sisi lainnya lagi, ya itu tadi, gemas juga melihat orang tua yang tak punya power dalam mendidik anak.

Beberapa kali saya berkonflik dengan Frea. Saya ingat pesan ibunya Frea, jika sedang ada konflik dengan anak, hendaknya sebisa mungkin diselesaikan hanya berdua dengan anak, tanpa ada yang ikut campur. Kami selalu terapkan itu. Untuk negosiasi, sebaiknya dibicarakan di belakang anak. Begitu pun jika ibunya yang berkonflik dengannya, saya juga tak ikut campur. Baru setelah masalahnya selesai, tanpa didengar Frea, kami ngobrol. Apa yang saya tak setuju, bilang ke ibunya. Di situ negosiasi terjadi.

Ya, senjata anak dalam

Om Aji



Kemarin Frea senang banget didatengi Om-nya. Sudah lama sekali dia tak berjumpa dengan Om-nya itu. Dirautnya terlihat jelas rasa bahagianya.

Om-nya tiba di rumah persis saat Frea juga baru naik odong-odong-- wahana yang amat disukainya. Saya sendiri tak tega jika Om-nya menunggu lama di rumah, tapi juga tak tega jika baru sebentar, Frea diminta untuk berhenti menyudahi naik odong-odongnya. Maka saya beri waktu 5 menit untuk menikmatinya.

Setelah 5 menit itu, saya memberanikan diri ngomong ke Frea untuk menyudahinya, dengan alasan Om-nya sudah sampai,dan sedang menunggu di rumah.

Tak disangka, Frea langsung mau, mengiyakan untuk segera beranjak dari mobil odong-odong yang sedang dinaikinya. Tak biasanya dia begitu. Saat pertama kali naik, bahkan sampai menangis saat dipaksa turun. Tapi kali ini dia langsung mau turun meski diwajahnya ada sedikit rasa kecewa.

Sesampai di rumah, melihat Om-nya, Frea langsung beraksi centilnya. Segala

Pembangkang



Pernahkah melihat anak kecil yang begitu membangkang saat diperintah oleh orang tuanya? Disuruh mandi, ndak mau. Disuruh tidur, malah mainan. Apa pun yang diperintahkan selalu saja menolak. Yang saya bicarakan adalah anak balita. Tak usah jauh-jauh, keponakan saya juga begitu.

Saya sepakat kalau sifat tiap anak itu berbeda-beda. Alasan ini yang biasanya dipakai oleh orang tua sebagai pemakluman. Sah-sah saja memakai alasan itu, tapi terkadang mereka melupakan satu hal bahwa karakter anak juga dibentuk dari lingkungan.

Anak mempelajari hal-hal yang mereka lihat dan alami setiap hari. Dari waktu ke waktu.
Hal yang pertama biarlah urusan Maha Yang Menciptakan. Tugas kita sebagai orang tua harusnya fokus pada hal yang ke-dua tadi, yaitu bahwa karakter anak itu terbentuk dari lingkungan, khususnya keluarga.

Sebagai contoh soal anak membangkang tadi misalnya. Pasti ada hal di mana dia pernah dibohongi orang tuanya sehingga dia tidak percaya lagi omongannya. Anak seperti itu tau, bahwa orang tuanya tak lebih hanya akan menyuruh saja, hanya bicara saja, tak lebih.

Contohnya begini:

Konspirasi Popok



Butuh waktu lama barangkali berurusan tentang mendidik anak untuk bisa benar-benar mandiri masalah buang air ini. Di usia berapa Anda bisa pipis atau pup dan bisa cebok sendiri? Saya sendiri lupa sampai umur berapa.

Yang saya ingat adalah tentang adik saya yang pertama. Dia yang lumayan lama bermasalah urusan buang air kecil menurut lazimnya kebanyakan anak saat itu. Saya ingat, sampai kelas 2 SD, adik saya masih sering ngompol. Dengan berbagai macam, Bapak mencarikan solusi untuk menghentikan kebiasaan yang dianggap ‘tak umum’ itu. Setiap ada yang memberi tau caranya agar anak berhenti mengompol, langsung dipraktikannya. Entah masalah teknis, maupun tentang makanan dan minuman yang harus dikonsumsi.

Saya ingat salah satu yang disarankan kepada Bapak, agar adik saya itu bisa berhenti mengompol. Yang saya lupa adalah siapa yang memberi usulan ilmu itu kepada Bapak. Saat itu Bapak diberi tau agar adik saya makan Koangan, hewan yang

Toilet



Toilet training ternyata memang tak mudah. Kalau dibilang susah sekali untuk Frea, juga tidak. Sebab dia tipe anak yang bisa diberi tau. Memang, di awal-awal Frea tidak dipakaikan pampers, sejak dia sudah bisa mengucap dengan jelas (setidaknya untuk kami—orang tuanya), Frea bisa bilang ketika dia akan pipis. Sayangnya Frea bilang pipis saat bersamaan dengan pipisnya keluar.  Jadi ya sama saja. Ndak ngaruh.

Untuk menyiasatinya, kami melihat pola pipisnya, setiap berapa menit Frea pipis? Pada saat awal-awal tanpa pampers (kira-kira umur 2 tahun), pola pipis Frea setiap 20 menitan. Maka setiap waktu itu pula kami membawa Frea ke kamar mandi/toilet, meski terkadang setelah sampai sana, Frea tidak kunjung pipis. Sekarang (2 tahun 9 bulan) intensitas Frea pipis sudah lumayan lama, kira-kira 2 sampai 3 jam.

Pernah suatu waktu, karena lumayan seringnya Frea harus bolak-balik ke kamar mandi ketika hendak pipis, saat pipis itu dia meminta untuk pakai popok saja. Dia ngomong dengan sangat cepat dan sambil nangis: “Habis ini pate popok habis ini pate popok habis ini pate popok habis ini pate popok.” Saya ngakak mendengarnya.

Meski sudah bisa bilang saat mau pipis, terkadang dia lupa waktu, terutama ketika dia bermain. Beberapa kali dia ngompol saat bermain. Untuk menghindari itu, kami harus sering-sering mengingatkan agar dia tak lupa bilang ketika akan pipis.

Yang lebih sulit lagi

Baik



Hal-hal yang baik seharusnya memang ditanamkan pada anak sedini mungkin. Tak ada orang tua sebejad apa pun yang menginginkan anaknya jadi orang jahat. Tak ada pemabuk yang menyuruh anaknya mabuk. Tak ada pencuri yang berdoa agar anaknya bisa menjadi penerus mencuri. Semua ingin agar anak-anak mereka baik.

Hingga tak heran jika ada seorang dengan wajah merah padam habis mabuk, mengantarkan anaknya mengaji. Saya juga sering melihat seorang ibu-ibu muda yang mengantarkan anaknya ke sekolah berseragam muslim rapat dengan kerudungnya, sementara si ibu muda itu memakai kaus ketat dengan bawahan hot pant yang membuat saya senang melihatnya.

Semua itu semata-mata adalah bentuk ikhtiar orang tua agar kelak sang anak menjadi anak yang baik, yang syukur-syukur bisa membanggakan dan mendoakan orang tuanya.

Pun kami.

Sedini mungkin kami tanamkan di diri Frea hal-hal yang baik-baik. Berdoa sebelum melakukan sesuatu, bersyukur setelah memperoleh sesuatu yang baik, makan-minum pakai tangan kanan, mandi sehari dua kali meski terkadang saya tidak, makan-minum sambil duduk, ngupil dengan jari – bukan  dengan garpu, dan masih banyak hal baik lain.

Juga ada beberapa

Tarawih Ngantuk



Saat kali pertama saya tarawih dengan dengkul masih ada luka, Frea ikut dengan saya. Jadi dia satu-satunya orang di barisan shaf laki-laki yang memakai mukena. Shalat Isya, rakaat pertama aman. Tapi sampai pada posisi sujud, Frea belum bisa sujud dengan posisi benar menurut syariat. Sujudnya adalah posisi tidur dengan tengkurep. Sebenarnya tidak ada masalah jika saja tengkurepnya ada di wilayah tempat sholatnya. Tapi posisi tengkurep Frea, kakinya berada  di tempat sujud orang di belakangnya. Saya yang tadinya sholat ndak khusuk jadi makin tambah ndak khusyuk lagi melihat tingkahnya.

Rakaat ke-dua dia ikut berdiri, ruku, lalu sujud lagi. Tapi di rakaat ke-tiga, dia hanya duduk, diam, menghadap ke belakang mengamati orang-orang yang lagi sholat. Rakaat terakhir sholat Isya itu, dia tiduran. Kali ini tidurnya malah melintang ke arah utara-selatan. Otomatis, kakinya berada di depan tempat sujut orang yang ada di sebelahnya. Sungguh sholat isya yang penuh dengan pikiran yang bercabang dan jauh dari ketidak-khusyu’an.

Pada saat yang lain dzikir, saya

Tarawih



Pasca jatuh (3 Mei 2019), semingguan di rumah, saya tidak tarawih. Di lutut ada lecet yang lumayan besar. Maka ketika sujud, saya harus ekstra pelan dan hati-hati sehingga membutuhkan waktu yang lama. Karena itu saya memutuskan untuk tidak tarawih. Saya baru tarawih ketika memasuki 10 malam yang ke-dua, meski luka di lutut belum sembuh benar.

Pasca jatuh itu pula saya belum bisa mengendarai motor, karena ada luka di telapak tangan kanan. Maka setiap saya ke masjid untuk tarawih, ibunya Frea yang mengendarai motor di depan dan saya hanya membonceng saja. Dia yang mengantar-jemput saya, Titi, dan Tatung saat ke masjid—juga bersama Frea tentunya.

Sebenarnya tidak terlalu jauh jarak dari rumah ke masjid, hanya saja masjidnya adalah masjid instansi pemerintah yang letaknya berada di dalam komplek perkantoran, dan untuk menuju ke sana harus melewati gerbang yang ada pos penjaganya. Masjid yang hanya ramai saat ada tarawih, sholat Jum’at, serta sholat Id saja. Setelah itu, hanya dihuni oleh orang-orang diperkantoran itu saja karena letaknya bukan di area perkampungan. Tak sampai 15 menit, begitu tarawih selesai, di masjid hanya tersisa 2-3 orang. Pernah suatu kali sesampai di masjid saat menjemput saya, masjid sudah sepi. Frea bilang ke ibunya, “Bu, masjidnya sudah habis.” BUKAN MASJIDNYA YANG HABIS FREE... TAPI ORANGNYA YANG SUDAH HABIS.

Suatu malam, setelah tarawih usai,

Dokter Gigi



Senin, 15 April 2019, saya pulang lebih awal dari pada hari Senin-Senin lain seperti biasanya. Tanpa rencana, ibunya Frea mengajak saya ke dokter gigi. Katanya, mau mencabut sisa giginya yang berlubang, juga sekaligus memeriksakan gigi Frea yang memang sudah ada yang berlubang.

Sesampai di tempat dokter gigi, sudah ada beberapa orang yang mengantri. Masing-masing membawa anak, termasuk kami. Jadi di dalam ruang antrian, ada empat anak, 2 anak kira-kira berumur 3-4 tahun, seorang anak masih 1 tahunan, sementara Frea 2,5 tahun. Alhamdulillah Frea yang paling aktif dan cerewet di antara yang lain. Punya anak yang aktif dan cerewet itu menyenangkan, meski sesekali juga dibuat malu tapi juga geli oleh kelakuannya yang tak terduga. Yang jelas harus punya tenaga ekstra untuk mengawasinya.

Frea dan ibunya mendapat antrean ke-empat dari yang ada di sana saat itu.  Dan tidak ada lagi pasien yang mengantri. Memang, dibandingkan

7/17/19

Akalagi



Bermain selalu menjadi obat tersendiri bagi semua orang. Seberapa tua usia Anda, sebaiknya bermainlah untuk melupakan penat, barang sejenak.

Bermain dan berolahraga adalah satu rangkaian kegiatan yang saling berkaitan, kalau tak bisa disebut identik. Maka ada cabang olahraga permainan. Olahraga sambil bermain, atau bermain sambil berolahraga?

Olahraga juga identik dengan berkeringat, meski tak semua olahraga mengeluarkan keringat. ‘Bermain catur’ atau ‘berolahraga catur’? Bercatur di tempat ber-AC, tak sepanas kondisi otak saat dikejar deadline, kan ya?

Suatu sore, Mas sepupu Frea yang berumur setengah tahun lebih tua darinya, bermain di halaman. Namanya Mas Rafif. Masnya sedang naik mobil-mobilan. Saya keluar rumah bersama Frea setelah saya mandikan. Frea berjalan mendekati masnya itu dan tampak ingin sekali menaiki mobil-mobilan yang sedang dinaiki masnya.

Terjadilah percakapan berikut:

Gosok Gigi



Ritual Frea sebelum tidur, setelah minum susu adalah gosok gigi. Untuk kegiatan satu ini, dia tidak menyukainya. Tandanya adalah: setiap kali gosok gigi (entah pada waktu mandi atau pun sebelum tidur) selalu saja menangis, dari dulu sampai sekarang.

Banyak orang yang bilang bahwa anak memang seperti itu saat di awal saja, dan lama-lama juga nanti terbiasa. Tapi Frea  dari awal kalinya sikat gigi (umur setahunan mungkin) sampai sekarang (umur 2,5 tahun) tiap kali sikat gigi selalu saja menangis dan harus dengan cara dipaksa.

Oh ya, ritualnya yang lain setelah mapan tidur adalah minta dikipasi sambil kruik-kruik tangan ibunya. Ya, harus ibunya. Bahkan ketika sudah sangat mengantuk dan sambil merem, ketika tangan ibunya diganti dengan tangan saya, dia bisa tau, dan langsung menyingkirkan tangan saya lalu meminta tangan ibunya lagi untuk dikruik-kruik, sampai dia benar-benar tertidur.

Pernah suatu malam, sebelum tidur dia langsung gosok gigi tanpa minta susu terlebih dulu. Tumben-tumbenan. Lalu dia mapan tidur sambil minta dikeloni ibunya untuk dikruik-kruik seperti biasa. Beberapa menit berlalu, dan dia belum juga tidur.

“Bu.”

“Ya? Kenapa, Fre?”

Masjid



Sepekan terakhir, setiap kali tidak hujan dan pas saya sudah di  rumah, kami sering mengajak Frea ke masjid yang disukainya. Disukai ibunya lebih tepatnya. Memang beralasan kenapa masjid itu yang dipilih. Selain masjidnya nyaman, keamanan terjamin, satpamnya ramah, juga yang terpenting ramah anak dan banyak anak-anak di sana. Frea butuh sosialisasi juga pembanding dalam tanda kutip.

Eh, ada yang tertinggal, dan ini juga masuk sebagai alasan kuat: jaraknya yang tidak terlalu dekat juga tidak terlalu jauh, sehingga ketika ke sana harus bermotor. Ya, Frea masih senang-senangnya jalan-jalan naik motor. Bahkan sekadar ketika saya hendak memasukan motor dari halaman ke dalam rumah pun, dia ikut, meski saat itu dia sudah mapan tidur.

Kami mengajaknya ke sana juga beralasan. Selain agar saya berjamaah, juga karna kami menduga Frea mulai kecanduan HP. Setiap kali saya pulang, yang Frea katakan ke saya, “Pak, boleh liat HP-nya Bapak?” Selalu begitu.

Sebenarnya intensitasnya dalam melihat HP juga