Showing posts with label teras. Show all posts
Showing posts with label teras. Show all posts

8/5/19

Sandal


Kali pertama saya datang di masjid ini, heran juga melihat barisan sandal dengan posisi terbalik seperti itu. Ada juga sandal yang posisinya seperti pada umumnya posisi sandal, namun hanya beberapa saja.

Saat itu saya hanya menduga, mereka yang posisi sandalnya sudah dibalik, adalah orang-orang yang sudah setiap hari datang ke sana, sementara yang belum dibalik, adalah orang yang baru kali pertama datang. Seperti saya saat itu.

Dan nyatanya dugaan saya benar. Hanya saja, mereka yang terburu-buru saat melepas sandal (entah karena memburu shalat jamaah karena sudah tertinggal, atau karena urusan lain seperti kebelet pipis, dll) meski sudah berkali-kali datang, letak sandalnya masih banyak juga yang tidak rapi. Dan saat itu saya anggap kejadian biasa saja.

Ya, biasa saja. Karena banyak sandal yang posisinya sudah dibalik pun bagi saya sudah luar biasa. Coba perhatikan, apakah posisi sandal di masjid dekat Anda ada yang seperti itu?

Yang membuat saya agak kaget adalah ketika sholat usai, dan saya hendak memakai sandal saya krmbali, semua sandal dan sepatu yang ada di sana tertata dengan rapi tanpa ada yang berserakan satu pun. Sudah jelas, itu pasti

7/25/19

Bapak IV



Saya sadar, saya bukanlah tipe orang yang bisa ngobrol lama dengan orang lain, apalagi yang tak sefrekuensi. Juga dengan Bapak. Meski hubungan antara Bapak dengan anak bukanlah masalah sefrekuensi atau tidak. Banyak hal yang tak saya omongkan ke Bapak, tapi beliau tau. Apa yang masih ada di dalam hati dan baru berniat untuk mengatakannya ke Bapak, beliau sudah bisa menebaknya.

Sebagai seorang anak, apa-apa yang sekiranya tak mengenakkan hati saya, juga khususnya Bapak, inginnya saya menyembunyikannya dari Bapak. Saya tak ingin membebankan pikiran Bapak. Saya tau perasaan seorang Bapak jika tau anaknya tak bahagia. Namun tanpa diceritakan pun, besar kemungkinan Bapak tau jika anaknya sedang ada masalah.

Bapak juga tipe orang yang sama. Beliau tak ingin membebankan masalah ke orang lain. Sebisa mungkin, apa-apa yang sedang dihadapinya, diselesaikannya sendiri, tanpa membebankan kepada orang lain. Termasuk saat beliau menahan sakit yang dideritanya.

Sebenarnya sebelum Bapak difonis sakit, perubahan fisik Bapak sudah terlihat. Tubuhnya makin kurus. Melihat perubahan fisik Bapak tersebut, saya berkali-kali mengajak Bapak untuk mengecek kesehatannya. Tapi berkali-kali pula Bapak menolaknya. Tak hanya anak-anaknya yang meminta Bapak untuk periksa, teman dan para tetangga di rumah pun berkali-kali juga membujuknya. Tapi ya itu, Bapak adalah tipe orang yang tak ingin menyusahkan orang lain. Beda dengan saya yang sudah banyak menyusahkan orang lain.

Begitu banyaknya orang-orang yang sangat peduli dan menyayangi Bapak. Ini terlihat selama Bapak sakit. Begitu banyak orang yang menjenguk Bapak, entah pada waktu di rumah maupun saat berada di rumah sakit. Juga terlihat saat Bapak kembali padaNya. Begitu banyak orang-orang yang datang melayat Bapak.

Dari setiap peristiwa, ada hal yang bisa kita ambil untuk dijadikan pembelajaran. Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Untuk Bapak, Al Fatihah....
(19 Juni 2019)

Mudik



Tradisi unik nan baik yang barangkali cuma ada di negri kita. Tak hanya itu, ia juga menggembirakan.
.
Tak bisa dipungkiri, dalam mudik, membutuhkan pengorbanan yang amat besar. Makin jauh jaraknya, makin banyak pengorbanan yang dikeluarkan. Tenaga, materi, dan waktu. Minimal 3 elemen itu. Meski begitu, rasanya tak ada orang yang bilang kapok untuk mudik. Mereka bergembira ria bertemu handai taulan.

Saya jadi ingat saat mudik masa kecil dulu. Di mana keadaan sistem transportasi di Indonesia begitu buruk. Terutama untuk jalur darat. Anda yang pernah merasakan itu, pasti setuju.
.
Saya ingat benar perjuangan Bapak ketika harus berdesak-desakan demi mendapatkan tiket (entah bis atau kereta). Tak jarang ketika berdesak-desakan itu badannya kesiku atau kakinya terinjak-injak.
.
Sudah dapat tiket pun, untuk masuk ke dalam bis atau keretanya masih harus berdesak-desakan, karena berebut untuk mendapatkan kursi agar tak berdiri selama di perjalanan. Saya pernah merasakan naik kereta sampai harus tidur beralaskan koran di lantai kereta. Itu pun jadwalnya mundur berjam-jam. Berangkat dari Pekalongan sekitar jam 8-an pagi, sampai Solo jam 2 pagi lagi. Dulu belum ada

7/17/19

Ngambek



Jumat pagi, bangun tidur Frea menangis mencari ibunya. Tumben dia menangis, biasanya tak seperti itu. Begitu bangun, meski tak ada orang di sampingnya, dia langsung turun dari tempat tidur, keluar kamar, lalu menuju dapur mencari ibunya. Setidaknya, di sana pasti ada orang. Setiap pagi, dapur dan kamar mandi (yang letaknya bersebelahan) adalah pusat aktifitas di rumah.

Karna saya yang melihatnya terlebih dahulu, maka saya gendong Frea, untuk kemudian mengalihkan perhatiannya agar berhenti menangis. Saya membawanya ke luar rumah untuk melihat anjing tetangga, dia masih saja menangis. Saya tawari ambil bunga di dekat pertigaan jalan, dia tetap menangis. Padahal ke-dua hal tadi, adalah hal yang begitu disukainya saat pagi tiba (dan saya punya waktu agak longgar tentunya).

Untuk diketahui, Frea adalah tipe anak yang ketika menangis, hanya sebentar saja. Tapi kala itu, ia benar-benar hanya mencari ibunya. Saya kalah. Saya menyerah. Masih dalam keadaan menangis, saya bawa Frea ke dapur mengantarkan ke ibunya.

Ternyata, sandiwaranya tak cuma sampai di sana. Saat sudah

7/3/19

Teras



Tadi malam, di teras sebuah masjid bakda maghrib, sembari menunggu isya, saya dan istri mengobrol seperti biasa. Terlihat di halaman masjid ada beberapa anak yang sedang asyik bermain. Ada yang bersepeda, mengobrol, ada juga yang sedang bermain HP.

"Bu, itu anak-anak tiap hari di sini, atau cuma waktu malam Minggu saja ya?" tanya saya ke istri saat melihat anak-anak itu. Saya memang sering iseng menanyakan apa pun yang saya lihat dan atau ada di pikiran saya ke istri sekadar mencandainya.

Awalnya dia cuma nyengir. Lalu seperti telah mengingat sesuatu. "Pak, besok kalau Frea udah sekolah, kita bolehkan dia main HP tiap hari ya.."

Saya bingung dengan pertanyaannya. "Maksudnya?"

"Lihat anak itu," sambil menunjuk anak yang sedang asyik memainkan gawainya. "Atau perhatikan anak-anak usia sekolah pada umumnya. Kebanyakan mereka hanya