Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

9/24/19

Nyatus



Sudah 100 hari Bapak kapundhut. Waktu yang bisa dibilang baru sebentar, bisa juga dianggap cukup lama. Yang jelas selama ini, sampai 100 hari ini, terkadang saya benar-benar lupa jika Bapak memang sudah berada di alam kubur. Saya tiba-tiba selintas mau menelpon atau sms Bapak. Jadi di otak saya muncul "Oh, iya, sudah lama nih, belum nelpon/sms Bapak," lalu buka HP. Tapi dalam hitungan detik juga teringat sendiri kalau Bapak memang sudah kapundhut.

Dan biasanya setelah itu, langsung teringat masa-masa di mana saya masih sepenuhnya berinteraksi langsung dengan Bapak.

Tak bisa dipastikan kapan ingatan saya tiba-tiba muncul memori tentang Bapak. Bisa saat saya sedang sendiri, bisa juga saat saya bersama orang lain. Bisa saat sedang mencuci, nyetrika, atau lagi di jalan saat melihat suatu peristiwa. Seringnya memang saat setelah sholat, juga saat melakukan aktifitas bersama Frea. Mungkin lebih karena sama-sama berkaitan/hubungan bapak-anak.

Misalnya saat

3th



Pagi tadi, saat saya nyetrika, Frea dibangunkan ibunya. Sembari mengumpulkan nyawa, dia tiduran di pangkuan ibunya sambil memeluk koala. Kami mengajaknya bicara agar dia benar-benar terbangun. Setelah sadar, seperti biasa, ritual pasca bangun tidur adalah meminta susu.

Jika setiap sebelum tidur, saya yang harus membuatkan susunya, maka setelah bangun tidur adalah ibunya yang selalu menyiapkan, dan Frea tak pernah mempermasalahkannya. Namun itu tak berlaku pagi tadi. Frea dengan tegas meminta saya untuk membuatkan susunya.

“Pak, mimik tutu. Bapak yang buat!”

“Siapa yang buatin, Fre?” tanya saya meyakinkan.

“Bapak.”

“Bapak apa Ibu?”

“Bapaaak. Cium dulu.”

Maksudnya adalah meminta saya menciumnya sebelum membuatkan susu, karna memang biasanya setiap malam, sebelum membuatkan dia susu, saya menggodanya dengan meminta dicium untuk energi jalan ke dapur.
Kalau sudah mendengar kata yang terakhir itu, saya geli dan langsung luluh. Dengan gemas saya menciumnya sambil menerka kenapa dia meminta begitu?

Saya ingat, kemarin

8/5/19

Sapi



Memelihara hewan di rumah, katanya bisa membentuk anak menjadi lebih peka rasa empatinya. Tentunya Ini baik untuk perkembangan Frea. Namun kami tak punya hewan piaraan satu pun. Tapi kami tetap harus mengasah kepekaan Frea. Maka kami mengakalinya dengan membelikan dia mainan boneka yang berbentuk hewan. Beberapa boneka hewan sudah jadi temannya. Panda, kelinci, gajah, koala, anjing, dan beberapa boneka hewan lain. Tentunya boneka hewan-hewan itu kami beli satu per satu sesuai budget.

Setiap hari kami ajak mengobrol mereka bersama Frea seolah boneka hewan-hewan itu benar-benar benyawa. Tanya nama, nawari makan, memintanya tidur, serta mengobrol hal-hal yang spontan terlintas saat itu. Tentunya obrolan yang baik yang kami contohkan sehingga empati Frea terbentuk.

Dampak lainnya, ternyata Frea menjadi anak yang suka bermain peran. Imajinasinya bermacam-macam. Saya selalu geli setiap melihat Frea mengajak teman-temannya itu mengobrol. Selalu saja ada hal lucu dari sana.

Saat awal-awal punya sapi, dia

Om Wignyo



Perawakannya tinggi-besar, hidungnya mancung dengan rambut klimis lurus. Terus terang saya tak begitu mengenal Om saya itu karena intensitas ketemu saya dengannya yang memang hanya—paling setahun sekali. Itu pun hanya sehari dua hari. Beberapa kali ngobrol saja dengan beliau. Namun dari pertemuan-pertemuan itu, ditambah dengan cerita dari saudara-saudara saya yang lain, secuil hal saya bisa menggambarkan bagaimana sifat beliau.

Penyabar adalah sifat pertama yang bisa saya tangkap. Dari caranya berbicara, bagaimana berkomunikasi dengan putri-putri dan istrinya, saya bisa merasakan begitu sabarnya beliau. Yang menguatkan lagi, beliau adalah orang yang amat sayang dan menyukai anak kecil. Ya, semua anak kecil, bukan hanya anaknya sendiri. Terbukti saat setiap kali anak kecil menangis dan digendong beliau, selalu bisa tenang kembali.

Pernah suatu kali, keponakan saya

Kontrol


Baru kemarin dipuji, hari ini sudah membuat ulah lagi. Frea menolak lagi untuk minum obat. Sekuat pikiran, kami menegosiasinya.

“Ini kalau Frea minum obatnya baik, nanti di tempat periksa boleh mainan perosotan,” bujuk ibunya. 

Di ruang tunggu RS memang ada tempat khusus mainan anak-anak. Saat periksa pertama, dia memang senang sekali mainan di sana. Namun dia tetap menolak.

“Kalau ndak mau minum obat, ya berarti nanti di sana tidak boleh mainan,” lanjut ibunya.

“Mau maen.”

“Boleeeh, ini minum obatnya dulu yang baik.”

“Ndak mau.”

Karena waktu yang mendesak, dan agar bisa

Sandal


Kali pertama saya datang di masjid ini, heran juga melihat barisan sandal dengan posisi terbalik seperti itu. Ada juga sandal yang posisinya seperti pada umumnya posisi sandal, namun hanya beberapa saja.

Saat itu saya hanya menduga, mereka yang posisi sandalnya sudah dibalik, adalah orang-orang yang sudah setiap hari datang ke sana, sementara yang belum dibalik, adalah orang yang baru kali pertama datang. Seperti saya saat itu.

Dan nyatanya dugaan saya benar. Hanya saja, mereka yang terburu-buru saat melepas sandal (entah karena memburu shalat jamaah karena sudah tertinggal, atau karena urusan lain seperti kebelet pipis, dll) meski sudah berkali-kali datang, letak sandalnya masih banyak juga yang tidak rapi. Dan saat itu saya anggap kejadian biasa saja.

Ya, biasa saja. Karena banyak sandal yang posisinya sudah dibalik pun bagi saya sudah luar biasa. Coba perhatikan, apakah posisi sandal di masjid dekat Anda ada yang seperti itu?

Yang membuat saya agak kaget adalah ketika sholat usai, dan saya hendak memakai sandal saya krmbali, semua sandal dan sepatu yang ada di sana tertata dengan rapi tanpa ada yang berserakan satu pun. Sudah jelas, itu pasti

Minum Obat



Mulai hari Sabtu siang (6 Juli 2019) suhu tubuh Frea naik turun. Hari Seninnya kami putuskan membawanya ke dokter keluarga karena suhu tubuhnya yang masih naik turun meski volume minum Frea sudah ditambah. Dokternya meminta kami untuk mengecekkan lab darah Frea. Dan malam itu juga hasilnya saya konsultasikan.

Hb-nya turun dan ada gejala tipes katanya. Maka kemudian Frea dibuatkan rujukan ke dokter spesialis anak untuk penanganan lanjutan. Esoknya kami membawa Frea ke dokter anak dengan menunjukkan hasil lab. Frea diperiksa. Ada radang juga di tenggorokannya. Untungnya tidak sampai rawat inap. Dokter hanya memberikan resep obat dan meminta kami kembali 3 hari lagi untuk kontrol.

Begitu terima obat, saya langsung bingung. Apa yang ada di pikiran saya adalah bagaimana meminumkan obat-obat itu ke Frea? Saya sudah pernah cerita di postingan sebelumnya kalau Frea tipe anak yang susah sekali untuk meminum obat, bahkan ketika obat itu sudah ditelan sampai perut, dia bisa memuntahkannya. Saya benar-benar kepikiran. Padahal obat itu ada yang harus dihabiskan agar bisa sembuh.

Benar. Kekhawatiran saya  terjadi saat kali

7/25/19

Perajuk



Masalah lain selain anak tak mau menurut apa yang diperintahkan, salah satunya adalah ketika anak meminta sesuatu. Banyak orang tua yang saya lihat 'kalah' dengan kemauan anak. Sehingga setiap si anak minta sesuatu, selalu harus dipenuhi sebagai penyelesaiannya. Tanpa memperhitungkan dampaknya setelah itu.

Terkadang saya gemas juga setiap melihat langsung kejadian ini terjadi. Di satu sisi saya bersyukur punya anak yang (mudah-mudahan) tak sampai seperti anak lain yang apa-apa harus dipenuhi keinginannya. Di sisi lain juga kasihan sama orang tua yang harus seperti itu dalam mengurus anaknya. Di sisi lainnya lagi, ya itu tadi, gemas juga melihat orang tua yang tak punya power dalam mendidik anak.

Beberapa kali saya berkonflik dengan Frea. Saya ingat pesan ibunya Frea, jika sedang ada konflik dengan anak, hendaknya sebisa mungkin diselesaikan hanya berdua dengan anak, tanpa ada yang ikut campur. Kami selalu terapkan itu. Untuk negosiasi, sebaiknya dibicarakan di belakang anak. Begitu pun jika ibunya yang berkonflik dengannya, saya juga tak ikut campur. Baru setelah masalahnya selesai, tanpa didengar Frea, kami ngobrol. Apa yang saya tak setuju, bilang ke ibunya. Di situ negosiasi terjadi.

Ya, senjata anak dalam

Om Aji



Kemarin Frea senang banget didatengi Om-nya. Sudah lama sekali dia tak berjumpa dengan Om-nya itu. Dirautnya terlihat jelas rasa bahagianya.

Om-nya tiba di rumah persis saat Frea juga baru naik odong-odong-- wahana yang amat disukainya. Saya sendiri tak tega jika Om-nya menunggu lama di rumah, tapi juga tak tega jika baru sebentar, Frea diminta untuk berhenti menyudahi naik odong-odongnya. Maka saya beri waktu 5 menit untuk menikmatinya.

Setelah 5 menit itu, saya memberanikan diri ngomong ke Frea untuk menyudahinya, dengan alasan Om-nya sudah sampai,dan sedang menunggu di rumah.

Tak disangka, Frea langsung mau, mengiyakan untuk segera beranjak dari mobil odong-odong yang sedang dinaikinya. Tak biasanya dia begitu. Saat pertama kali naik, bahkan sampai menangis saat dipaksa turun. Tapi kali ini dia langsung mau turun meski diwajahnya ada sedikit rasa kecewa.

Sesampai di rumah, melihat Om-nya, Frea langsung beraksi centilnya. Segala

Pembangkang



Pernahkah melihat anak kecil yang begitu membangkang saat diperintah oleh orang tuanya? Disuruh mandi, ndak mau. Disuruh tidur, malah mainan. Apa pun yang diperintahkan selalu saja menolak. Yang saya bicarakan adalah anak balita. Tak usah jauh-jauh, keponakan saya juga begitu.

Saya sepakat kalau sifat tiap anak itu berbeda-beda. Alasan ini yang biasanya dipakai oleh orang tua sebagai pemakluman. Sah-sah saja memakai alasan itu, tapi terkadang mereka melupakan satu hal bahwa karakter anak juga dibentuk dari lingkungan.

Anak mempelajari hal-hal yang mereka lihat dan alami setiap hari. Dari waktu ke waktu.
Hal yang pertama biarlah urusan Maha Yang Menciptakan. Tugas kita sebagai orang tua harusnya fokus pada hal yang ke-dua tadi, yaitu bahwa karakter anak itu terbentuk dari lingkungan, khususnya keluarga.

Sebagai contoh soal anak membangkang tadi misalnya. Pasti ada hal di mana dia pernah dibohongi orang tuanya sehingga dia tidak percaya lagi omongannya. Anak seperti itu tau, bahwa orang tuanya tak lebih hanya akan menyuruh saja, hanya bicara saja, tak lebih.

Contohnya begini:

Konspirasi Popok



Butuh waktu lama barangkali berurusan tentang mendidik anak untuk bisa benar-benar mandiri masalah buang air ini. Di usia berapa Anda bisa pipis atau pup dan bisa cebok sendiri? Saya sendiri lupa sampai umur berapa.

Yang saya ingat adalah tentang adik saya yang pertama. Dia yang lumayan lama bermasalah urusan buang air kecil menurut lazimnya kebanyakan anak saat itu. Saya ingat, sampai kelas 2 SD, adik saya masih sering ngompol. Dengan berbagai macam, Bapak mencarikan solusi untuk menghentikan kebiasaan yang dianggap ‘tak umum’ itu. Setiap ada yang memberi tau caranya agar anak berhenti mengompol, langsung dipraktikannya. Entah masalah teknis, maupun tentang makanan dan minuman yang harus dikonsumsi.

Saya ingat salah satu yang disarankan kepada Bapak, agar adik saya itu bisa berhenti mengompol. Yang saya lupa adalah siapa yang memberi usulan ilmu itu kepada Bapak. Saat itu Bapak diberi tau agar adik saya makan Koangan, hewan yang

Toilet



Toilet training ternyata memang tak mudah. Kalau dibilang susah sekali untuk Frea, juga tidak. Sebab dia tipe anak yang bisa diberi tau. Memang, di awal-awal Frea tidak dipakaikan pampers, sejak dia sudah bisa mengucap dengan jelas (setidaknya untuk kami—orang tuanya), Frea bisa bilang ketika dia akan pipis. Sayangnya Frea bilang pipis saat bersamaan dengan pipisnya keluar.  Jadi ya sama saja. Ndak ngaruh.

Untuk menyiasatinya, kami melihat pola pipisnya, setiap berapa menit Frea pipis? Pada saat awal-awal tanpa pampers (kira-kira umur 2 tahun), pola pipis Frea setiap 20 menitan. Maka setiap waktu itu pula kami membawa Frea ke kamar mandi/toilet, meski terkadang setelah sampai sana, Frea tidak kunjung pipis. Sekarang (2 tahun 9 bulan) intensitas Frea pipis sudah lumayan lama, kira-kira 2 sampai 3 jam.

Pernah suatu waktu, karena lumayan seringnya Frea harus bolak-balik ke kamar mandi ketika hendak pipis, saat pipis itu dia meminta untuk pakai popok saja. Dia ngomong dengan sangat cepat dan sambil nangis: “Habis ini pate popok habis ini pate popok habis ini pate popok habis ini pate popok.” Saya ngakak mendengarnya.

Meski sudah bisa bilang saat mau pipis, terkadang dia lupa waktu, terutama ketika dia bermain. Beberapa kali dia ngompol saat bermain. Untuk menghindari itu, kami harus sering-sering mengingatkan agar dia tak lupa bilang ketika akan pipis.

Yang lebih sulit lagi

Eyang



Tak pernah saya mengidolakan seseorang pejabat negara seperti saya mengidolakan Eyang Habibie. Bahkan ini adalah momen foto dengan seorang publik figur yang paling saya senangi. Memang, seburuk-buruknya seseorang, pasti ada hal baik yang ada di diri orang tersebut. Pun sebaliknya, sebaik-baiknya seseorang, pasti ada kesalahan yang pernah dibuatnya.

Tapi begitu banyaknya kebaikan yang ada pada diri Eyang Habibie, saya bahkan tak menghiraukan kesalahannya. Orang baik akan tetap terlihat kebaikannya. Bahkan ketika ada sesuatu yang salah dari orang tersebut, pasti ia tak semata-mata mutlak kesalahannya. Tuhan akan menunjukkan itu.

Foto ini diambil tanggal 17 Februari 2007. Ya, sudah 12 tahun silam, tapi kenangannya beberapa masih saya ingat dengan jelas. Saat pertemuan itu, saya meminta beliau mendoakan hal yang baik-baik tentunya.

Satu momen lain yang saya ingat adalah ketika beliau mau beranjak pergi meninggalkan acara, untuk kembali ke Jakarta. Tapi saat itu pula beberapa wartawan menghadangnya untuk mewawancarai. Beliau dimintai pendapat tentang kondisi negara saat itu terutama bidang ekonomi dan hubungannya dengan sistem transportasi.

Saya ingat, ajudannya

Bapak IV



Saya sadar, saya bukanlah tipe orang yang bisa ngobrol lama dengan orang lain, apalagi yang tak sefrekuensi. Juga dengan Bapak. Meski hubungan antara Bapak dengan anak bukanlah masalah sefrekuensi atau tidak. Banyak hal yang tak saya omongkan ke Bapak, tapi beliau tau. Apa yang masih ada di dalam hati dan baru berniat untuk mengatakannya ke Bapak, beliau sudah bisa menebaknya.

Sebagai seorang anak, apa-apa yang sekiranya tak mengenakkan hati saya, juga khususnya Bapak, inginnya saya menyembunyikannya dari Bapak. Saya tak ingin membebankan pikiran Bapak. Saya tau perasaan seorang Bapak jika tau anaknya tak bahagia. Namun tanpa diceritakan pun, besar kemungkinan Bapak tau jika anaknya sedang ada masalah.

Bapak juga tipe orang yang sama. Beliau tak ingin membebankan masalah ke orang lain. Sebisa mungkin, apa-apa yang sedang dihadapinya, diselesaikannya sendiri, tanpa membebankan kepada orang lain. Termasuk saat beliau menahan sakit yang dideritanya.

Sebenarnya sebelum Bapak difonis sakit, perubahan fisik Bapak sudah terlihat. Tubuhnya makin kurus. Melihat perubahan fisik Bapak tersebut, saya berkali-kali mengajak Bapak untuk mengecek kesehatannya. Tapi berkali-kali pula Bapak menolaknya. Tak hanya anak-anaknya yang meminta Bapak untuk periksa, teman dan para tetangga di rumah pun berkali-kali juga membujuknya. Tapi ya itu, Bapak adalah tipe orang yang tak ingin menyusahkan orang lain. Beda dengan saya yang sudah banyak menyusahkan orang lain.

Begitu banyaknya orang-orang yang sangat peduli dan menyayangi Bapak. Ini terlihat selama Bapak sakit. Begitu banyak orang yang menjenguk Bapak, entah pada waktu di rumah maupun saat berada di rumah sakit. Juga terlihat saat Bapak kembali padaNya. Begitu banyak orang-orang yang datang melayat Bapak.

Dari setiap peristiwa, ada hal yang bisa kita ambil untuk dijadikan pembelajaran. Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Untuk Bapak, Al Fatihah....
(19 Juni 2019)

Baik



Hal-hal yang baik seharusnya memang ditanamkan pada anak sedini mungkin. Tak ada orang tua sebejad apa pun yang menginginkan anaknya jadi orang jahat. Tak ada pemabuk yang menyuruh anaknya mabuk. Tak ada pencuri yang berdoa agar anaknya bisa menjadi penerus mencuri. Semua ingin agar anak-anak mereka baik.

Hingga tak heran jika ada seorang dengan wajah merah padam habis mabuk, mengantarkan anaknya mengaji. Saya juga sering melihat seorang ibu-ibu muda yang mengantarkan anaknya ke sekolah berseragam muslim rapat dengan kerudungnya, sementara si ibu muda itu memakai kaus ketat dengan bawahan hot pant yang membuat saya senang melihatnya.

Semua itu semata-mata adalah bentuk ikhtiar orang tua agar kelak sang anak menjadi anak yang baik, yang syukur-syukur bisa membanggakan dan mendoakan orang tuanya.

Pun kami.

Sedini mungkin kami tanamkan di diri Frea hal-hal yang baik-baik. Berdoa sebelum melakukan sesuatu, bersyukur setelah memperoleh sesuatu yang baik, makan-minum pakai tangan kanan, mandi sehari dua kali meski terkadang saya tidak, makan-minum sambil duduk, ngupil dengan jari – bukan  dengan garpu, dan masih banyak hal baik lain.

Juga ada beberapa

Bapak III



Puasa dan lebaran tahun ini adalah kali pertama tanpa ditemani Bapak, setelah beliau kapundhut dua hari menjelang ramadhan sebulan lalu.

Apa yang paling membekas dari Bapak saat ramadhan adalah cara membangunkan saya ketika sahur. Meski agak keras, intonasi suaranya tak mungkin akan terlupa di otak saya. Juga nada ketika beliau ndarus. Nada mengaji yang begitu khas. Saya menyesal karna tak sempat merekamnya.

Ada kenangan lain saat bulan puasa dengan Bapak yang sampai saat ini masih berkesan. Kejadiannya saat saya masih SD. Entah kelas berapa. Di kampung saya waktu itu, tiap ngabuburit, anak-anak pada sepedaan ke bendungan yang jaraknya kira-kira tiga kiloan meter. Ya, lumayan jauh memang. Tapi itulah satu-satunya obyek yang paling menarik kami untuk mendatanginya.

Sebelum berangkat, Bapak selalu berpesan agar sebelum beduk Maghrib harus sudah sampai di rumah. Layaknya anak-anak, keasyikan bermain bisa melupakan segalanya, terutama waktu. Karena masalah itu, saya dimarahi Bapak. Padahal hanya selang beberapa menit setelah adzan. Kini saya tau kekhawatiran seorang orang tua terhadap anaknya.

Ini adalah kenangan foto-foto bapak lebaran tahun lalu. Di mana beliau masih bisa membuatkan taman kecil untuk bermain cucu-cucunya, bersilaturahmi dengan saudara, bercanda dengan anak-cucunya, juga masih bisa mendoakan hal-hal yang terbaik untuk anak-anaknya.
(6 Juni 2019)

Mudik



Tradisi unik nan baik yang barangkali cuma ada di negri kita. Tak hanya itu, ia juga menggembirakan.
.
Tak bisa dipungkiri, dalam mudik, membutuhkan pengorbanan yang amat besar. Makin jauh jaraknya, makin banyak pengorbanan yang dikeluarkan. Tenaga, materi, dan waktu. Minimal 3 elemen itu. Meski begitu, rasanya tak ada orang yang bilang kapok untuk mudik. Mereka bergembira ria bertemu handai taulan.

Saya jadi ingat saat mudik masa kecil dulu. Di mana keadaan sistem transportasi di Indonesia begitu buruk. Terutama untuk jalur darat. Anda yang pernah merasakan itu, pasti setuju.
.
Saya ingat benar perjuangan Bapak ketika harus berdesak-desakan demi mendapatkan tiket (entah bis atau kereta). Tak jarang ketika berdesak-desakan itu badannya kesiku atau kakinya terinjak-injak.
.
Sudah dapat tiket pun, untuk masuk ke dalam bis atau keretanya masih harus berdesak-desakan, karena berebut untuk mendapatkan kursi agar tak berdiri selama di perjalanan. Saya pernah merasakan naik kereta sampai harus tidur beralaskan koran di lantai kereta. Itu pun jadwalnya mundur berjam-jam. Berangkat dari Pekalongan sekitar jam 8-an pagi, sampai Solo jam 2 pagi lagi. Dulu belum ada

Tarawih Ngantuk



Saat kali pertama saya tarawih dengan dengkul masih ada luka, Frea ikut dengan saya. Jadi dia satu-satunya orang di barisan shaf laki-laki yang memakai mukena. Shalat Isya, rakaat pertama aman. Tapi sampai pada posisi sujud, Frea belum bisa sujud dengan posisi benar menurut syariat. Sujudnya adalah posisi tidur dengan tengkurep. Sebenarnya tidak ada masalah jika saja tengkurepnya ada di wilayah tempat sholatnya. Tapi posisi tengkurep Frea, kakinya berada  di tempat sujud orang di belakangnya. Saya yang tadinya sholat ndak khusuk jadi makin tambah ndak khusyuk lagi melihat tingkahnya.

Rakaat ke-dua dia ikut berdiri, ruku, lalu sujud lagi. Tapi di rakaat ke-tiga, dia hanya duduk, diam, menghadap ke belakang mengamati orang-orang yang lagi sholat. Rakaat terakhir sholat Isya itu, dia tiduran. Kali ini tidurnya malah melintang ke arah utara-selatan. Otomatis, kakinya berada di depan tempat sujut orang yang ada di sebelahnya. Sungguh sholat isya yang penuh dengan pikiran yang bercabang dan jauh dari ketidak-khusyu’an.

Pada saat yang lain dzikir, saya

Tarawih



Pasca jatuh (3 Mei 2019), semingguan di rumah, saya tidak tarawih. Di lutut ada lecet yang lumayan besar. Maka ketika sujud, saya harus ekstra pelan dan hati-hati sehingga membutuhkan waktu yang lama. Karena itu saya memutuskan untuk tidak tarawih. Saya baru tarawih ketika memasuki 10 malam yang ke-dua, meski luka di lutut belum sembuh benar.

Pasca jatuh itu pula saya belum bisa mengendarai motor, karena ada luka di telapak tangan kanan. Maka setiap saya ke masjid untuk tarawih, ibunya Frea yang mengendarai motor di depan dan saya hanya membonceng saja. Dia yang mengantar-jemput saya, Titi, dan Tatung saat ke masjid—juga bersama Frea tentunya.

Sebenarnya tidak terlalu jauh jarak dari rumah ke masjid, hanya saja masjidnya adalah masjid instansi pemerintah yang letaknya berada di dalam komplek perkantoran, dan untuk menuju ke sana harus melewati gerbang yang ada pos penjaganya. Masjid yang hanya ramai saat ada tarawih, sholat Jum’at, serta sholat Id saja. Setelah itu, hanya dihuni oleh orang-orang diperkantoran itu saja karena letaknya bukan di area perkampungan. Tak sampai 15 menit, begitu tarawih selesai, di masjid hanya tersisa 2-3 orang. Pernah suatu kali sesampai di masjid saat menjemput saya, masjid sudah sepi. Frea bilang ke ibunya, “Bu, masjidnya sudah habis.” BUKAN MASJIDNYA YANG HABIS FREE... TAPI ORANGNYA YANG SUDAH HABIS.

Suatu malam, setelah tarawih usai,

Dokter Gigi



Senin, 15 April 2019, saya pulang lebih awal dari pada hari Senin-Senin lain seperti biasanya. Tanpa rencana, ibunya Frea mengajak saya ke dokter gigi. Katanya, mau mencabut sisa giginya yang berlubang, juga sekaligus memeriksakan gigi Frea yang memang sudah ada yang berlubang.

Sesampai di tempat dokter gigi, sudah ada beberapa orang yang mengantri. Masing-masing membawa anak, termasuk kami. Jadi di dalam ruang antrian, ada empat anak, 2 anak kira-kira berumur 3-4 tahun, seorang anak masih 1 tahunan, sementara Frea 2,5 tahun. Alhamdulillah Frea yang paling aktif dan cerewet di antara yang lain. Punya anak yang aktif dan cerewet itu menyenangkan, meski sesekali juga dibuat malu tapi juga geli oleh kelakuannya yang tak terduga. Yang jelas harus punya tenaga ekstra untuk mengawasinya.

Frea dan ibunya mendapat antrean ke-empat dari yang ada di sana saat itu.  Dan tidak ada lagi pasien yang mengantri. Memang, dibandingkan