Perihal makan, Frea termasuk anak yang gampang gampang susah. Suatu saat begitu lahapnya saat disuapkan makanan ke mulutnya, namun di saat lain, sudah dibujuk dengan berbagai cara pun dia tetap menolak. Tapi bagaimana pun, juga demi kesehatannya, mau tak mau harus mencari cara agar asupan makanan bisa tetap masuk di tubuhnya.
Sambil bermain, tentu alternatif utama yang kami lakukan, selain membolehkannya makan sambil melihat HP. Meskipun ke-duanya bukanlah alternatif cara yang kita sepakati seperti yang sudah saya tuliskan di tulisan-tulisan sebelumnya.
Banyak faktor kenapa anak terkadang enggan makan. Kemonotonan adalah faktor yang utama. Faktor keajegan ini juga tak melulu soal jenis dan menu makanannya saja, ia juga termasuk tempat. Ya, tempat. Kalau dipikir-pikir, ibu dan Titi-nya Frea selalu memasakkan Frea dengan menu yang gonta-ganti setiap harinya, tapi ya tetap saja ada waktu di mana dia enggan makan. Maka (dengan terpaksa) kami mengajak Frea keluar untuk main sepedaan sambil makan, atau terkadang juga kami makan di luar. Bukan, bukan di restoran atau jajan di luar, tapi kami membawakan bekal Frea untuk dimakan di taman, masjid, atau tempat terbuka lain. Nyatanya, di tempat-tempat 'baru' itu, Frea selalu habis banyak.
Pernah suatu waktu
12/31/19
Posyandu
Selumbari, Frea Posyandu. Tentu diantar Titi-nya seperti yang sudah-sudah. Jadwalnya sebulan sekali. Kini setiap diberi tau kalau akan Posyandu, Frea menjawab dengan penuh semangat dan selalu menceritakan kejadian di Posyandu bulan sebelumnya.
"Frea nanti Posyandu. Yang pinter yaa."
"Yaa," jawabnya penuh semangat. "Peya pintel lho, Pak. Peya ndak nanis, ditimbang," sambungnya. Maksudnya saat ditimbang, sekarang dia tidak nangis lagi.
"Waah, pinter yaa," jawab saya.
Dulu saat usia 2 tahunan, setiap kali ditimbang memang sering menangis. Mungkin karena orang yang menimbangkan tidak setiap hari ditemuinya. Masa-masa di mana dia masih mengenali lingkungan. Saya pernah menemaninya ke Posyandu, awalnya dia bilang iya-iya kalau ndak akan nangis saat ditimbang. Tapi begitu sampai gilirannya, meski saya mencoba mengalihkan perhatiannya, tangis pun tetap pecah tak terbendung. .
Sepulang kerja, saya diceritakan
"Frea nanti Posyandu. Yang pinter yaa."
"Yaa," jawabnya penuh semangat. "Peya pintel lho, Pak. Peya ndak nanis, ditimbang," sambungnya. Maksudnya saat ditimbang, sekarang dia tidak nangis lagi.
"Waah, pinter yaa," jawab saya.
Dulu saat usia 2 tahunan, setiap kali ditimbang memang sering menangis. Mungkin karena orang yang menimbangkan tidak setiap hari ditemuinya. Masa-masa di mana dia masih mengenali lingkungan. Saya pernah menemaninya ke Posyandu, awalnya dia bilang iya-iya kalau ndak akan nangis saat ditimbang. Tapi begitu sampai gilirannya, meski saya mencoba mengalihkan perhatiannya, tangis pun tetap pecah tak terbendung. .
Sepulang kerja, saya diceritakan
Malmingan
Sudah lumayan lama kami tak keluar menikmati suasana malam di 'daerah bawah'. "Daerah Semarang", kata orang-orang di kampung kami tinggal menyebutnya. Saya yang bukan warga asli Semarang aneh mendengarnya. Kenapa daerah Semarang bawah saja yang disebut Semarang? Bukankah Banyumanik juga bagian dari Semarang?
Banyak alasan kenapa kami tak kunjung melakukannya. Hal utama tentu karna alasan Frea. Udara malam tentu tak baik bagi kesehatannya. Apalagi untuk seusianya yang masih belia. Juga jam tidurnya yang kami biasakan maksimal jam 20.00 harus sudah berada di kamar. Di samping itu juga jarak tempuh yang lumayan jauh jika dari rumah kami.
Sebenarnya sudah lama ibunya Frea ingin jalan-jalan ke daerah kota itu. Entah alasan apa yang membuat dia begitu menginginkannya. Barangkali hanya ingin menikmati suasana malam kota yang saya akui semakin
Banyak alasan kenapa kami tak kunjung melakukannya. Hal utama tentu karna alasan Frea. Udara malam tentu tak baik bagi kesehatannya. Apalagi untuk seusianya yang masih belia. Juga jam tidurnya yang kami biasakan maksimal jam 20.00 harus sudah berada di kamar. Di samping itu juga jarak tempuh yang lumayan jauh jika dari rumah kami.
Sebenarnya sudah lama ibunya Frea ingin jalan-jalan ke daerah kota itu. Entah alasan apa yang membuat dia begitu menginginkannya. Barangkali hanya ingin menikmati suasana malam kota yang saya akui semakin
Protes
Setiap hari di mana saya pulang malam, esoknya selalu ada sikap Frea yang agak sinis ke saya. Misalnya seperti hari Jumat lalu, sesaat setelah ibunya pamit untuk berangkat kerja, Frea langsung bertanya ke saya yang saat itu ada di sampingnya, “Tok, Bapak ndak telja? Telja aja tana. Peya di lumah ama Titi.”
Mendengar ucapan Frea begitu, sejujurnya saya trenyuh, sedih. Bagaimana tidak, seorang Bapak diusir oleh anaknya sendiri. Seorang Bapak yang tak diinginkan kehadirannya oleh anaknya sendiri. Tapi juga senang dan geli karena anak berusia 3 tahun sudah bisa menyampaikan rasa ketidak-sukaannya terhadap suatu hal.
Itu juga ternyata berlaku untuk ibunya. Saat tau
Mendengar ucapan Frea begitu, sejujurnya saya trenyuh, sedih. Bagaimana tidak, seorang Bapak diusir oleh anaknya sendiri. Seorang Bapak yang tak diinginkan kehadirannya oleh anaknya sendiri. Tapi juga senang dan geli karena anak berusia 3 tahun sudah bisa menyampaikan rasa ketidak-sukaannya terhadap suatu hal.
Itu juga ternyata berlaku untuk ibunya. Saat tau
E-Crack
Masih jelas diingatan saya ketika saya bertemu dengan beliau. Aura kebaikan dan ketulusan yang paling saya tangkap. Senyum lebar selalu beliau berikan ke siapa pun yang beliau temui. Senyum yang memberi kesan keakraban juga kedamaian. Bahagia tentu yang saya rasakan dan mungkin bagi orang yang berjumpa dengan beliau saat itu.
Bahwa kesedihan tentu masih melekat ketika pasangan hidup belum lama tiada, sudah tampak samar dengan senyum merekah yang diberikan. Senyum tulus sebagai bentuk rasa cinta dan hormat kepada orang-orang yang ditemuinya, hingga pantas jika rasa hormat dan cinta itu kembali kepadanya. Dengan tulus. Oleh berjuta orang di semua penjuru dunia.
Barangkali rasa
Bahwa kesedihan tentu masih melekat ketika pasangan hidup belum lama tiada, sudah tampak samar dengan senyum merekah yang diberikan. Senyum tulus sebagai bentuk rasa cinta dan hormat kepada orang-orang yang ditemuinya, hingga pantas jika rasa hormat dan cinta itu kembali kepadanya. Dengan tulus. Oleh berjuta orang di semua penjuru dunia.
Barangkali rasa
3M
Ibunya pulang membawa sebuah dus besar, diantar temannya. Saya dan
Frea sedang bermain. Saya tengkurep di balik tempat duduk yang ada di teras
rumah, sehingga jika dari arah depan tidak terlihat. Dan Frea berdiri di atas
punggung saya sambil pegangan tempat duduk tentunya agar tak terjatuh.
Saya bilang ke Frea, "Bapak ngumpet ya. Biar nanti Ibu ndak
lihat." Frea cekikikan. Apalagi pas ibunya datang, dia ngakak.
Sebenarnya itu adalah taktik saya yang hari ini terasa sangat
pegal di bagian punggung. Taktik di mana saya bisa bermain dengan Frea sambil
rebahan, juga ternyata Frea sudah bisa membantu saya memijit punggung dengan
cara menginjaknya. Keuntungan dobel bagi saya.
"Apa itu, Bu?" tanya Frea sambil mendekat dan mencoba
membuka kardusnya.
"Eh, bentar-bentar. Hati-hati yaa. Ini kue buat Frea. Selamat
ulang tahun," ucap ibunya sambil mencegah tangan Frea yang akan memegang
kardus. "Frea mandi dulu sana, nanti potong kuenya."
"Iyaa... Mandi tama Bapak. Yuk!" ajak Frea penuh