5/12/15
3/31/15
Lebay, ah.
“Duh, lha ini soal kok tidak
selesai dalam 3 kali pertemuan ini, bagaimana?”, kata saya di sebuah kelas.
“Lhooo…. Baru 2 kali pertemuan
lho pak.”, jawab beberapa siswa.
“Iya pak, baru 2 kali lho yaa.
Lebay nih.”, timpal siswa yang lain menambahi.
Hehe, saya hanya menjawab sanggahan-sanggahan
mereka itu dengan candaan seperti biasa, karena saya juga mengatakan soal yang dilebihkan tadi memang niatnya mencandai mereka.
Eh, sebentar. Lebay? Kalau kita
mencari kata ini dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata lebay ini
tidak akan kita temukan di sana. Tidak tau nanti 5 tahun lagi. Eh, atau
barangkali sekarang sudah masuk? Entahlah, saya belum tau.:) Setau saya, lebay adalah kata yang berarti berlebihan, atau dilebih-lebihkan.
Apakah lebay ini selalu bermakna negatif?
2/24/15
Laper Calo
![]() |
| Surat |
Sesuai yang tertera di surat tilang, saya datang ke pengadilan yang juga tertulis pada surat tilang itu. Itu pas hari Jumat, hari di mana banyak orang yang mengatakan itu adalah hari pendek. Saya tau kenapa orang-orang pada berkata seperti itu. Karena doktrin sekolah yang memulangkan sekolah lebih cepat dari hari-hari biasanya, dengan alasan karena para kaum Adam harus menjalankan sholat Jumat. Padahal kalau dipikir-pikir, baik sholat dhuhur atau pun sholat Jumat sama saja. Maksudnya waktunya relatif sama. Memang, sholat dhuhur itu tidak diwajibkan adanya khotbah. Tapi di instansi-instansi, memberi waktu untuk ishoma (istirahat-sholat-makan) rata-rata juga sama, satu jam. Dan di beberapa sekolah, ini sudah diterapkan. Jadi, baik Jumat atau pun tidak, pulangnya tetap sama. Lagi pula, memang pada hari Jumat, waktunya dalam sehari beda? Kan tidak. Jumat juga sama-sama 24 jam dalam sehari. :)
Karena memang saya sendiri belum
pernah datang ke sidang di tempat di mana saya ditilang saat ini, maka saya
juga tidak tau jam berapa tepatnya pelaksanaan tilang itu. Saya datang ke
pengadilan itu setelah Jumatan. Tapi sebelum ke sana,
Touring Adeta, Si Anak 'Nakal'
Tidak pernah saya membaca sebuah
cerpen, opini, atau pun buku komedi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Ada sih
yang bisa tertawa, tapi kalau dibaca ulang, tertawanya tidak sampai seseru saat
membaca untuk pertama kalinya. Barangkali ada efek kejut di sana. Makanya,
dalam hal apa pun, yang paling berkesan adalah hal yang pertama. :)
Ah, tapi ini juga cuma opini
saya, karna selera humor masing-masing orang kan beda-beda. Barangkali apa yang
saya bilang lucu, bagi orang lain malah garing, juga sebaliknya. Seperti saat
kita menilai para comic (pelaku stand up comedi) yang juga punya selera
masing-masing.
Sama juga untuk penilaian tentang
music, bagus bagi saya, belum tentu bagi orang lain, pun sebaliknya. Dan
penilaian-penialaian seperti ini berlaku untuk hal apa pun yang bersifat subyektif. :) Cocok-cocokan, kalau saya bilang. #hasyah…
Saya tidak akan membahas tentang
perbedaan-perbedaan itu. Tapi saya akan cerita tentang sebuah tulisan yang
(lagi-lagi menurut saya, iya, menurut saya) lucu. Dan bahkan, ketika saya
mengetik/menyalin ulang tulisan itu, saya masih saja tertawa. :))
Tulisan yang membuat saya tertawa
itu
1/31/15
1/30/15
Lampu - Mendung - Tilang
Pulang-pulang,
sudah malam saja. Padahal berangkatnya tadi pagi. Itu, saat matahari masih di
sebelah timur bumi. Eh bentar, padahal kalau menurut buku yang pernah saya baca saat
sekolah dulu, justru bumilah yg mengelilingi matahari. Berarti harusnya, letak
suatu planet, titik acuannya ya memakai matahari, bukan malah sebaliknya.
Seperti kalimat yang menggambarkan suasana pagi tadi, bukan letak matahari yang
ada di sebelah timur bumi, tapi harusnya, bumi yang berada di sebelah barat matahari. :)
Ah,
tapi saya juga tidak yakin sih. Itu karena tadi, seharian itu mendung. Bahkan
rintik airnya sudah jatuh ke tanah. Hampir seharian. Sampai saya pulang tadi.
Jadi tidak terlihat di mana letak matahari itu barada. Untungnya sudah ada yang
menciptakan jam. Jadi tidak perlu repot-repot untuk tau kapan waktu sholat,
juga kapan waktu untuk memulai dan mengakhiri sebuah aktifitas. Juga
