7/17/19

Arsip

Cukup lama rumah saya www.teachburger.blogspot.com tak tersentuh. Bahkan tak ada postingan di tahun 2018 lalu. Bukan saya tak menulis sama sekali, tapi entah karena apa saya tak mempostingnya di sana. Saya hanya menulis dan menyimpannya di folder laptop saja, sebagai ‘tabungan’. Memang tak banyak. Saya sadar, tahun lalu memang harus berurusan dengan beberapa hal lain.

Di tahun lalu saya hanya memanfaatkan twitter sebagai tempat di mana saya bisa menyimpan catatan-catatan singkat tentang peristiwa yang saya alami, juga beberapa opini yang terlintas saat itu yang kelak bisa menjadi contekan saat dibutuhkan. Twitter ini yang sampai sekarang masih saya gunakan entah sampai kapan. Karena selain sebagai catatan, banyak sekali ilmu yang saya dapat di sana.

Di tahun ini, saya lumayan banyak memanfaatkan media instagram sebagai tempat untuk menyimpan tulisan-tulisan saya, karena

7/3/19

Akal



Saat saya sedang menyetrika, tiba-tiba Frea merajuk meminta digendong. Tak biasanya dia seperti ini. Saya mencoba menawar untuk menyelesaiakannya terlebih dahulu, tapi dia tetap merengek sambil nggandul di badan saya. Mau tidak mau saya meletakkan setrika dan menggendongnya.

“Didong, Pak... Ayo... (Gendong, Pak... Ayo...)”

“Ke mana?”

“Ayo Paaak... Te tana... Te lual (Ayo Paaak... Ke sana... Ke luar).”

“Frea mau apa di luar? Mainan di sini saja, ya?” Saya merayunya agar tetap berada di samping saya.

“Ndak. Ayo telual...” Dia tetap meminta saya menggendongnya ke luar.

Saya menggendong membawanya berjalan ke arah luar dari ruang tengah. Sampai di ruang tamu, tepat di samping akuarium, Frea meminta berhenti, lalu meminta saya mendekati akuarium. Di atas akuarium ada HP saya yang sedang dicharge. Akuarium itu diletakkan di atas meja setinggi kira-kira 80 cm dan akuariumnya sendiri 70 cm sehingga kalau dari lantai hingga bagian atas/tutup akuarium, tingginya kurang lebih 1,5 meter, dan Frea tak bisa menjangkaunya.

Sengaja kami setiap kali

Main, Yuk!



Apakah Anda setuju dengan pernyataan bahwa masa kecil adalah masa yang paling membahagiakan?
Begini. Setiap hari, setiap kali saya berada di rumah, Frea selalu mengajak saya bermain. Entah itu main masak-masakan, mainan miniatur hewan, boneka, bola, sampai mobil-mobilan. Jangan heran kalau dia bisa mainan cowok, karna semua sepupunya yang masih kecil laki-laki. Saat dalam permainan itu, saya selalu berusaha masuk ke dunianya. Bahkan terkadang saya yang malah asyik main karna terlalu dalam masuknya, hingga istri menghentikannya.

Sering sekali dia main sendiri ketika memang tak ada orang yang bisa diajaknya bermain. Atau ketika kami-- orang tuanya harus menyelesaikan sesuatu, sehingga hanya bisa mengawasinya saja. Itu pun kami usahakan sebisa mungkin untuk bergantian menemaninya bermain.

Imajinasi seseorang ketika bermain memang liar. Apa pun bisa dijadikan bahan mainan. Ketika main masak-masakan misalnya, Frea terkadang bergumam sendiri. Atau ketika dia sudah merasa masakannya matang, dia memberikan piring (mainan tentunya) ke saya sambil mengucapkan sesuatu yang saya tidak mengerti, namun ketika saya tanya barusan dia bilang apa, dia hanya tertawa. Entah dia sedang mengimajinasikan apa, saya tidak tau.

Imajinasi harusnya

Flu, Fre?



Orang tua mana yang tega melihat anaknya sakit? Karna hal yang paling menyedihkan adalah bukan saat tubuh kita sakit, tapi melihat orang yang paling kita sayangi sakit.

Sudah dua hari ini Frea flu dan batuk. Kami tak membawanya ke dokter. Bukan karna kami tak percaya dokter, tapi lebih karna pengalaman kami dalam merawat Frea waktu sakit.

Pertama. Sakitnya Frea kali ini jelas, flu dan batuk. Dan perlakuan dokter ke Frea saat periksa selalu sama: diagnosis lalu diberi obat sesuai hasil diagnosanya. Sudah. Jadi kami hafal betul apa tindakan dokter.

Ke-dua. Misalkan sudah ke dokter pun, mentok pasti diberi obat. Sementara Frea adalah tipe anak yang susah sekali untuk minum obat. Saya rasa ini juga tak hanya dialami oleh Frea, tapi oleh banyak anak. Masalahnya bukan cuma pada bagaimana obat bisa masuk ke mulut, lalu ke perut. Lebih dari itu.

Saat kami berhasil memasukkan

Teras



Tadi malam, di teras sebuah masjid bakda maghrib, sembari menunggu isya, saya dan istri mengobrol seperti biasa. Terlihat di halaman masjid ada beberapa anak yang sedang asyik bermain. Ada yang bersepeda, mengobrol, ada juga yang sedang bermain HP.

"Bu, itu anak-anak tiap hari di sini, atau cuma waktu malam Minggu saja ya?" tanya saya ke istri saat melihat anak-anak itu. Saya memang sering iseng menanyakan apa pun yang saya lihat dan atau ada di pikiran saya ke istri sekadar mencandainya.

Awalnya dia cuma nyengir. Lalu seperti telah mengingat sesuatu. "Pak, besok kalau Frea udah sekolah, kita bolehkan dia main HP tiap hari ya.."

Saya bingung dengan pertanyaannya. "Maksudnya?"

"Lihat anak itu," sambil menunjuk anak yang sedang asyik memainkan gawainya. "Atau perhatikan anak-anak usia sekolah pada umumnya. Kebanyakan mereka hanya

RS H 55



Pagi tadi saya ke sebuah rumah sakit. Sebut saja RS H. Saya bermaksud mendaftarkan anak saya periksa. Sudah saya duga, kalau menggunakan BPJS pasti antre. Saya mendapat nomor antrean 55. Angka yang tidak terlalu banyak sebetulnya dibandingkan dengan antrean di RS lain yang pernah saya kunjungi pada jam yang sama. Hanya saja di RS ini cuma ada dua loket yang melayani, jadi tetap saja lama. Hampir 90 menit saya menunggu nomor antrean saya dipanggil. Di depan petugasnya, saya serahkan fotokopi surat rujukan dan nomor antreannya.

Setelah menyebutkan ke poly yang saya tuju, saya diminta menunggu, akan dicekkan terlebih dulu apakah quotanya masih ada atau tidak. Dan ternyata quota pada hari ini sudah habis. Saya meminta mengecek kembali, di minggu ini ada lagi untuk hari apa? Setelah utak-atik komputer untuk beberapa saat, petugasnya bilang bahwa ada lagi tanggal 20. Saya cerna omongannya, dan sadar, bahwa tanggal 20 itu masih dua minggu lagi. Iseng saya tanya apakah kalau umum (tidak menggunakan BPJS) masih bisa? Iseng karna beberapa kali saya ke RS ini tanpa BPJS, tak pernah sekalipun petugas membicarakan tentang quota. Awalnya si petugasnya bilang, kalau setiap hari memang ada quotanya (baik menggunakan BPJS atau umum) tapi akhirnya jujur juga bahwa RS membatasi quota BPJS.

Saya tak bisa membayangkan jika sakitnya memang butuh pengobatan dengan segera. Dua minggu bukan waktu yang baik untuk menahan sakit, Sodara.
Akhirnya saya beranjak dari kursi dan terpaksa merelakan hampir 2 jam kesia-siaan itu untuk menuju ke tempat kerja.

Sehat sehat, Nak. (5 Maret 2019)