Saat saya sedang menyetrika, tiba-tiba Frea merajuk meminta digendong.
Tak biasanya dia seperti ini. Saya mencoba menawar untuk menyelesaiakannya
terlebih dahulu, tapi dia tetap merengek sambil nggandul di badan saya. Mau
tidak mau saya meletakkan setrika dan menggendongnya.
“Didong, Pak... Ayo... (Gendong, Pak... Ayo...)”
“Ke mana?”
“Ayo Paaak... Te tana... Te lual (Ayo Paaak... Ke sana... Ke luar).”
“Frea mau apa di luar? Mainan di sini saja, ya?” Saya merayunya agar
tetap berada di samping saya.
“Ndak. Ayo telual...” Dia tetap meminta saya menggendongnya ke luar.
Saya menggendong membawanya berjalan ke arah luar dari ruang tengah.
Sampai di ruang tamu, tepat di samping akuarium, Frea meminta berhenti, lalu
meminta saya mendekati akuarium. Di atas akuarium ada HP saya yang sedang
dicharge. Akuarium itu diletakkan di atas meja setinggi kira-kira 80 cm dan
akuariumnya sendiri 70 cm sehingga kalau dari lantai hingga bagian atas/tutup
akuarium, tingginya kurang lebih 1,5 meter, dan Frea tak bisa menjangkaunya.
Sengaja kami setiap kali
nge-charge HP, diletakkan di tempat yang tidak bisa dijangkau anak, selain memang untuk keamanan karna arus listrik tentunya, juga agar dia tak melihat dan meminta untuk mainan HP. Sebisa mungkin kami menghindari itu.
nge-charge HP, diletakkan di tempat yang tidak bisa dijangkau anak, selain memang untuk keamanan karna arus listrik tentunya, juga agar dia tak melihat dan meminta untuk mainan HP. Sebisa mungkin kami menghindari itu.
Firasat saya kurang enak. Dia langsung mengambil HP itu, “Pak, liat HP,
boleh?”
Lha, tenan. Saya baru sadar kalau saya lagi diperdaya olehnya. Kalau
sudah begini, sulit bagi saya untuk menolak. Sekali lagi saya tertipu oleh
kecerdikannya. Asem.
(14 Maret 2019)
No comments:
Post a Comment