7/17/19

Key Bye




Hal paling berat setiap hari yang saya rasakan adalah saat akan berangkat kerja. Kenapa? Itu adalah saat di mana saya harus menyaksikan langsung beratnya pandangan Frea saat melihat orang tuanya pergi. Dia tak berkata apa-apa, tapi matanya mengisyaratkan lain. Saya tau ini karna pernah merasakan hal yang sama dulu ketika saya akan ditinggal Bapak saya pergi, entah kerja, atau saat ada urusan lain.

Perasaan saya dulu begitu, hanya itu. Tak memikirkan bagaimana perasaan yang Bapak saya rasakan saat itu. Ternyata tidak. Beratnya melihat tatapan anak yang tidak ingin ditinggal orang tuanya, ternyata sama beratnya, apalagi anak sendiri. Ditambah lagi beratnya meninggalkannya. Ini yang saya rasakan sekarang. Dan saya yakin, yang Bapak saya rasakan dulu juga sama.

Saya masih agak tega meninggalkan Frea bila di rumah masih ada ibunya. Begitu pun ibunya. Maka terkadang, kami berebut untuk berangkat terlebih dulu bukan karena ingin segera meninggalkan rumah, tapi semata-mata tak ingin menjadi ‘juru kunci’ kesaksian.

Lagi-lagi kecerdikan Frea. Setiap sebelum

Mukena



Belum lama, Frea dihadiahi ibunya sebuah mukena lengkap dengan sajadahnya. Hadiah itu sebenarnya adalah nadzar ibunya yang sudah lama. Yaitu saat Frea belum bisa jalan. Karna Frea termasuk anak yang untuk jalan saja butuh kalkulasi yang pas agar aman. Sehingga dia butuh waktu tepat dua tahun hitungan Hijriah untuk bisa jalan tanpa pegangan. Waktu yang cukup lama dibandingkan teman-teman sebayanya. Tapi saya tak mempersalahkan itu, karna saya tau kemampuannya. Rambatane wae lincah.

Saya percaya kata orang, bahwa kemampuan anak itu berbeda-beda. Tapi juga tetap waspada. Saya punya teman yang anaknya seusia Frea, tapi saat saya bertemu dengannya (2 tahun 2 bulan waktu itu), belum bisa melafalkan kata satu pun. Dia cuma bisa menunjuk-nunjuk bila ingin sesuatu. Menurut saya itu perkembangan yang tidak wajar, walau pun menurut ayahnya, itu ya wajar saja, dengan alasan tadi, yaitu bahwa perkembangan anak itu beda-beda.

Meski kemampuan berjalannya agak lambat dari teman sebayanya, tapi kemampuan

Arsip

Cukup lama rumah saya www.teachburger.blogspot.com tak tersentuh. Bahkan tak ada postingan di tahun 2018 lalu. Bukan saya tak menulis sama sekali, tapi entah karena apa saya tak mempostingnya di sana. Saya hanya menulis dan menyimpannya di folder laptop saja, sebagai ‘tabungan’. Memang tak banyak. Saya sadar, tahun lalu memang harus berurusan dengan beberapa hal lain.

Di tahun lalu saya hanya memanfaatkan twitter sebagai tempat di mana saya bisa menyimpan catatan-catatan singkat tentang peristiwa yang saya alami, juga beberapa opini yang terlintas saat itu yang kelak bisa menjadi contekan saat dibutuhkan. Twitter ini yang sampai sekarang masih saya gunakan entah sampai kapan. Karena selain sebagai catatan, banyak sekali ilmu yang saya dapat di sana.

Di tahun ini, saya lumayan banyak memanfaatkan media instagram sebagai tempat untuk menyimpan tulisan-tulisan saya, karena

7/3/19

Akal



Saat saya sedang menyetrika, tiba-tiba Frea merajuk meminta digendong. Tak biasanya dia seperti ini. Saya mencoba menawar untuk menyelesaiakannya terlebih dahulu, tapi dia tetap merengek sambil nggandul di badan saya. Mau tidak mau saya meletakkan setrika dan menggendongnya.

“Didong, Pak... Ayo... (Gendong, Pak... Ayo...)”

“Ke mana?”

“Ayo Paaak... Te tana... Te lual (Ayo Paaak... Ke sana... Ke luar).”

“Frea mau apa di luar? Mainan di sini saja, ya?” Saya merayunya agar tetap berada di samping saya.

“Ndak. Ayo telual...” Dia tetap meminta saya menggendongnya ke luar.

Saya menggendong membawanya berjalan ke arah luar dari ruang tengah. Sampai di ruang tamu, tepat di samping akuarium, Frea meminta berhenti, lalu meminta saya mendekati akuarium. Di atas akuarium ada HP saya yang sedang dicharge. Akuarium itu diletakkan di atas meja setinggi kira-kira 80 cm dan akuariumnya sendiri 70 cm sehingga kalau dari lantai hingga bagian atas/tutup akuarium, tingginya kurang lebih 1,5 meter, dan Frea tak bisa menjangkaunya.

Sengaja kami setiap kali

Main, Yuk!



Apakah Anda setuju dengan pernyataan bahwa masa kecil adalah masa yang paling membahagiakan?
Begini. Setiap hari, setiap kali saya berada di rumah, Frea selalu mengajak saya bermain. Entah itu main masak-masakan, mainan miniatur hewan, boneka, bola, sampai mobil-mobilan. Jangan heran kalau dia bisa mainan cowok, karna semua sepupunya yang masih kecil laki-laki. Saat dalam permainan itu, saya selalu berusaha masuk ke dunianya. Bahkan terkadang saya yang malah asyik main karna terlalu dalam masuknya, hingga istri menghentikannya.

Sering sekali dia main sendiri ketika memang tak ada orang yang bisa diajaknya bermain. Atau ketika kami-- orang tuanya harus menyelesaikan sesuatu, sehingga hanya bisa mengawasinya saja. Itu pun kami usahakan sebisa mungkin untuk bergantian menemaninya bermain.

Imajinasi seseorang ketika bermain memang liar. Apa pun bisa dijadikan bahan mainan. Ketika main masak-masakan misalnya, Frea terkadang bergumam sendiri. Atau ketika dia sudah merasa masakannya matang, dia memberikan piring (mainan tentunya) ke saya sambil mengucapkan sesuatu yang saya tidak mengerti, namun ketika saya tanya barusan dia bilang apa, dia hanya tertawa. Entah dia sedang mengimajinasikan apa, saya tidak tau.

Imajinasi harusnya

Flu, Fre?



Orang tua mana yang tega melihat anaknya sakit? Karna hal yang paling menyedihkan adalah bukan saat tubuh kita sakit, tapi melihat orang yang paling kita sayangi sakit.

Sudah dua hari ini Frea flu dan batuk. Kami tak membawanya ke dokter. Bukan karna kami tak percaya dokter, tapi lebih karna pengalaman kami dalam merawat Frea waktu sakit.

Pertama. Sakitnya Frea kali ini jelas, flu dan batuk. Dan perlakuan dokter ke Frea saat periksa selalu sama: diagnosis lalu diberi obat sesuai hasil diagnosanya. Sudah. Jadi kami hafal betul apa tindakan dokter.

Ke-dua. Misalkan sudah ke dokter pun, mentok pasti diberi obat. Sementara Frea adalah tipe anak yang susah sekali untuk minum obat. Saya rasa ini juga tak hanya dialami oleh Frea, tapi oleh banyak anak. Masalahnya bukan cuma pada bagaimana obat bisa masuk ke mulut, lalu ke perut. Lebih dari itu.

Saat kami berhasil memasukkan