11/3/17

Yakin Masih Tetap Berada di #Tim9 ?

Mukadimah: Mari sarapan (lagi) matematika.
                                    
                                      Sumber: google.com


 







































Dari sebuah foto yang menampilkan dua hasil penghitungan dengan kalkulator HP android dan kalkulator scientific di atas, saya menanyakan ke grup whatsapp (WAG) alumni kelas saat kuliah dulu (jurusan Matematika), hasil manakah yang benar di antara dua jawaban yang berbeda itu, padahal dengan soal yang sama.Tujuan saya tak lain adalah mencari sebuah kebenaran, agar tak menjadi  dosa yang berlarut-larut karna mengajarkan sesuatu yang salah. 


Begini. Soal tertulis di foto “6 : 2 ( 2+1 )”. 
Pada HP android, jawaban tertulis 9, sementara pada kalkulator scientific, tertulis jawaban 1Menurut Anda, mana yang benar?Melihat kenyataan ini, saya sungguh merasa bodoh mendadak, meski kenyataannya saya juga tidak pintar.Saya akan menjawab mana yang menurut saya benar, dengan alasan-alasan saya, mengapa saya memilih jawaban itu.


Pertama, 

1/2/17

Jadi, Pengen Anak Cewek, Apa Cowok?


Sebelumnya perlu saya tegaskan kalau tulisan ini diperuntukkan hanya orang dewasa. Jadi yang belum dewasa, mohon di-skip tulisan ini, dan silahkan baca tulisan saya yang lain.


Juga untuk teman-teman saya yang belum menikah yang ada di grup WA (saya doakan cepat bertemu jodohnya) yang mungkin merasa terganggu, saya yang memulai pertanyaan diskusi ini, mohon maaf yang sebesar-besarnya jika memang menyinggung dan mengganggu. Sungguh saya tidak bermaksud menyinggung siapapun. Saya juga tau, bahwa untuk mendapatkan informasi ini, cukup gugling saja akan muncul ratusan artikel tentang ini. Tapi saya benar-benar ingin tau cerita dan pengalaman secara langsung kepada teman-teman, barangkali bisa saya ambil ilmunya untuk kemudian saya praktikkan. Karena ilmu apapun, kalau hanya sebatas teori (tulisan), rasanya kok kurang afdhol dan kurang dapat dipercaya. Apalagi dengan semakin bebasnya orang mengemukakan pendapatnya, tanpa ada yang menyaring (termasuk tulisan ini).


Tulisan ini agak panjang, namun ini adalah obrolan dari grup WA, jadi tidak memerlukan waktu yang lama untuk membacanya. Yep, obrolannya asli saya ambil dari chating grup itu, dan saya hanya menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (karna obrolan kami pakai bahasa Jawa) tidak mengubah konteks aslinya. Saya harap teman-teman dan siapapun yang membaca tulisan ini, khususnya untuk mereka yang lagi program mempunyai momongan, bijak dalam menyikapinya. Apa yang sekiranya bisa diambil, silahkan gunakan. Dan apa yang sekiranya hanya ocehan, ya abaikan saja. Bila menghibur, tertawalah. Bila menyedihkan, maafkanlah. Dan bila pegal-pegal, pijatlah. Semua anda yang menentukan. Selamat membaca.




Berawal ketika

Jenis Orang yang Pantas Dipisuhi.


Ada suatu keharusan bahkan semasa 'kecil nanggung' dulu, ketika dikasari/dibentak/dinakali oleh teman, balik misuh juga. Seperti candu. Rasanya ada yang kurang ketika belum misuhi teman dalam sehari. Ada kepuasan tersendiri saat bisa teriak kasar. Seperti ada hormon adrenalin yang baru saja dikeluarkan.
Benar saja. Adrenalin berupa keberanian sekaligus kewaspadaan untuk menerima umpatan balik dari orang yang lebih tua, ketika tau saya misuh.

Bagi yang belum tau apa itu misuh, mari kita samakan persepsi. Misuh adalah kata kerja, yaitu berkata kasar, juga saru-- dalam tanda petik (karena masih ada yang berpandangan begitu). Bisa juga diartikan umpatan secara kasar. Bisa secara sembunyi-sembunyi dan pelan, bisa juga secara terang-terangan dengan NYARING MELENGKING ditujukan kepada orang yang dipisuhi. Jancuk, adalah

9/24/16

Tentang (nama) Kamu



Apa arti sebuah nama? 

Begitu kata sebagian kaum yang berpenilaian bahwa nama tak lebih dari sebuah kata yang menancap pada diri seseorang, agar orang lain mudah untuk bersapa dan berkomunikasi. Bayangkan saja jika semua orang yang ada di bumi ini tanpa nama? Bagaimana saya menyapa anda, juga anda menyapa gebetan anda? Kalang kabut tak karuan. Hah, heh, hah, heh, saja ya?.

Juga, bahwa sebuah nama tidak menjamin tingkah laku seseorang. Semua tingkah laku, bukan datang dari siapa nama yang melekat pada diri seseorang. Tak hanya soal perilaku, nama juga tak menjamin seseorang jadi sukses apa tidak. Tak jarang nama yang kata kebanyakan orang norak pun, banyak yang sukses. Meski tak sedikit pula yang kurang beruntung. Pun sebaliknya, kan?

Juga, nama hanya berfungsi agar memudahkan petugas sensus dan petugas kelurahan, dalam menuliskan di kolom ‘nama’. Ya, ia mempermudah dalam masalah administrasi.

Terus, apalagi ya?
Oh ini,

2/5/16

Ya Gitu, Gak Enak.

"Tempat dudukku situ.", kata seorang ibu --yg membawa anaknya-- kepada temannya sambil menunjuk tempat duduk yg dimaksud, sesuai yg tertera di tiketnya, tapi tidak berani ngomong langsung ke orang yg lagi duduk di kursi itu. Ini kebiasaan orang 'kampung', yg masih membawa budaya ewuh-pekewuh, atau kalau di-Indonesia-kan artinya ada rasa 'tidak enak'.

Dalam contoh lain begini: Misalkan ada seseorang yg kaya raya, dan bingung mau disedekahkan ke mana uang itu. Terus tiba-tiba dia mau memberikan satu rumahnya ke saya dengan cuma-cuma. Saya sebagai orang yg baik, tentunya tidak ingin mengecewakan dia yg sudah berbaik hati, juga yg sudah mencari ladang pahala dengan caranya, tidak mau mengecewakan dia begitu saja. Ada rasa tidak enak dalam diri saya untuk menolak pemberiannya itu. Maka dengan berat senang hati, saya menerima pemberiannya tersebut. Ok, sepertinya contoh yg saya berikan tidak menambah wawasan anda dalam memahami makna ewuh-pekewuh ini ya? Emm.. Lupakan.

Nah, rasa tidak enak itu yg masih

7/28/15

Parkir

gambar diambil dr http://serantaunews.com

Tak memungkiri, terkadang keberadaan tukang parkir justru membuat resah orang-orang yg diparkirinya. Terutama untuk parkir liar. Oh iya, ini yang saya bicarakan parkir motor. Tak sedikit dari mereka hanya memikirkan income yang mereka terima dari pengguna jasanya, tanpa memikirkan tanggung jawab yang (seharusnya) menjadi tanggung jawabnya.

Tunggu. Pengguna jasa? Saya kira kata ini pun tak tepat mewakilinya. Iya, tidak sedikit keberadaan mereka tidak memberikan jasa sedikit pun. Hanya berdiri atau duduk yang saat datang entah di mana, tapi saat yang punya motor mau pergi, tau-tau dia sudah di belakang motor untuk meminta uang.

Berani menarik uang parkir, berarti