12/31/14

Ritual Tahun Baru

Mengintip kalender sebentar, dan ini adalah akhir bulan Desember, bulan di mana di sana diawali dari tanggal 1 dan berakhir di tanggal 31 (Ok, ini jelas informasi tidak penting. Abaikan.)
Bulan Desember adalah bulan yang keberadaannya begitu penting menurut saya. Bayangkan saja, jika keberadaan bulan ini tidak ada, maka jumlah bulan dalam satu tahun ini jadi ganjil. Ia menjadi 11 bulan. Dan ini berarti bertentangan dengan apa yang sudah kita pelajari selama ini.
Yang jelas, Desember adalah bulan terakhir dalam satu tahun masehi. Berarti juga ada tanggal terakhir sebelum bergantinya tahun. Pergantian tahun ini banyak digunakan orang-orang sebagai batas dalam melakukan evaluasi, apakah target-target

12/13/14

Kurir Tulisan

Semakin menjamurnya aplikasi untuk berkirim pesan, semakin memudahkan juga seseorang untuk berkomunikasi. Ini menjadi semakin menarik karena para pengguna dimanjakan dengan bermacam fiture pelengkap dalam berkirim pesan tersebut. Iya, tidak hanya tulisan yang akan dikirim, tapi juga bisa menambahkan foto, gambar, suara, maupun video. Para penyedia layanan pun berlomba melengkapi fiture-fiture tambahan demi menarik pemakainya agar semakin banyak.

Pemakai layanan ini pun seolah-olah menjadikannya sebagai gaya hidup. Jadi, misalkan

10/31/14

SMSpreneur

Kemarin, adik saya sms. Tidak seperti sms biasanya yang menanyakan mau pulang kapan, atau minta dijemput atau diantar untuk ke suatu tempat, tapi smsnya begini: "Mas, laundry di tempatku dapet diskon." Tidak saya gubris langsung sms-nya. Bukan apa-apa, disamping saat itu keadaan yang tidak memungkinkan untuk membalas karena lagi (sok) sibuk, juga karena hal yang disampaikan bukan hal yang mendesak. Mendesak di sini berarti sangat penting bagi kelangsungan hidup saya, misalnya begini, "Mas, ini dapet syukuran kue dari ibu kost.", atau "Mas, ini aku beli sate kebanyakan, tolong habisin yaa.". Nah, untuk urusan ini, adalah urusan yang sangat urgent bagi saya. Siapa saja yang

10/30/14

Permak Laundry

Nge-judge sesuatu yang jelek, baiknya tidak dilakukan. Apalagi hal yang masih bersifat duniawi.
"Gak ada yang kekal bro selain Dia.", kata teman saya.
Benar juga sih. Sejelek-jeleknya suatu benda, juga bakal ada manfaatnya kalau dipandang dari sudut lain, mungkin. Atau memang mau mencari apa-apa yang bisa diambil manfaat darinya. Seperti ketombe misalnya. Bagi kebanyakan orang, adanya ketombe akan mengganggu aktifitas seseorang. Bagaimana tidak, misalnya saat sholat, yang harusnya cukup sekali jalan, jadi harus mengulang sholatnya gara-gara tangan bergerak lebih dari tiga kali menggaruk kepala. Tapi, di sisi lain, adanya ketombe menjadikan lahan bisnis bagi pelaku bisnis shampo. Mana mungkin akan ditemukan shampo kalau tidak ada ketombe? Pelaku bisnis ini yang bisa membaca hal lain tentang ketombe sehingga menjadi sesuatu yang bermanfaat. :)

Tapi namanya

9/30/14

Dibuat Malu

Satu yang saya sering ingat ketika akan melakukan kesalahan adalah hukumannya. Baik saat sekolah dulu sampai dengan kehidupan sekarang, yang bahkan sudah tak ada lagi orang yang mau menghukumnya. Iya barangkali hukum alam dan hukuman dari Tuhan adalah hal yang begitu sangat menakutkan bagi saya.

Selain dua hukuman itu, ada lagi hukuman lain yang saat sekolah dulu, lebih menakutkan dari sekedar dihukum untuk lari keliling lapangan atau push up. Ia adalah hukuman yang bisa membuat malu. Entah diminta menyanyi di depan kelas, atau meminta tanda tangan ke semua guru yang ada di sekolah.

Bagi saya, #dibuatmalu adalah sebuah aib. Aib yang

Poli-sick (tulisan ini blm selesai)


gambar diambil dari iipx.blogspot.com


Politik? Ah, saya dulu malas sekali mendengar kata politik. Apa itu politik? Saya tidak begitu peduli, “biarkan pemerintah saja yang memikirkannya”. Begitu pikir saya saat itu. Lagian memang, saya punya latar belakang pengetahuan yang negative tentang hukum dan kroninya, tentang pemerintahan orde baru yang mendarah dagingkan korupsi hingga sampai pada masa sekarang yang justru banyak orang yang bilang bahwa itu tidak mungkin bisa dihilangkan. (Dan sampai sekarang pun saya masih mendengar secara langsung budaya ini). 

Iya, betapa dulu ya tinggal manut saja apa kata pemerintah. Apa yang menjadi keputusannya mau tidak mau harus dilaksanakan. Termasuk keputusan tentang naiknya harga diri bumbu dapur. Memang sekarang tidak begitu?