10/31/14

SMSpreneur

Kemarin, adik saya sms. Tidak seperti sms biasanya yang menanyakan mau pulang kapan, atau minta dijemput atau diantar untuk ke suatu tempat, tapi smsnya begini: "Mas, laundry di tempatku dapet diskon." Tidak saya gubris langsung sms-nya. Bukan apa-apa, disamping saat itu keadaan yang tidak memungkinkan untuk membalas karena lagi (sok) sibuk, juga karena hal yang disampaikan bukan hal yang mendesak. Mendesak di sini berarti sangat penting bagi kelangsungan hidup saya, misalnya begini, "Mas, ini dapet syukuran kue dari ibu kost.", atau "Mas, ini aku beli sate kebanyakan, tolong habisin yaa.". Nah, untuk urusan ini, adalah urusan yang sangat urgent bagi saya. Siapa saja yang

10/30/14

Permak Laundry

Nge-judge sesuatu yang jelek, baiknya tidak dilakukan. Apalagi hal yang masih bersifat duniawi.
"Gak ada yang kekal bro selain Dia.", kata teman saya.
Benar juga sih. Sejelek-jeleknya suatu benda, juga bakal ada manfaatnya kalau dipandang dari sudut lain, mungkin. Atau memang mau mencari apa-apa yang bisa diambil manfaat darinya. Seperti ketombe misalnya. Bagi kebanyakan orang, adanya ketombe akan mengganggu aktifitas seseorang. Bagaimana tidak, misalnya saat sholat, yang harusnya cukup sekali jalan, jadi harus mengulang sholatnya gara-gara tangan bergerak lebih dari tiga kali menggaruk kepala. Tapi, di sisi lain, adanya ketombe menjadikan lahan bisnis bagi pelaku bisnis shampo. Mana mungkin akan ditemukan shampo kalau tidak ada ketombe? Pelaku bisnis ini yang bisa membaca hal lain tentang ketombe sehingga menjadi sesuatu yang bermanfaat. :)

Tapi namanya

9/30/14

Dibuat Malu

Satu yang saya sering ingat ketika akan melakukan kesalahan adalah hukumannya. Baik saat sekolah dulu sampai dengan kehidupan sekarang, yang bahkan sudah tak ada lagi orang yang mau menghukumnya. Iya barangkali hukum alam dan hukuman dari Tuhan adalah hal yang begitu sangat menakutkan bagi saya.

Selain dua hukuman itu, ada lagi hukuman lain yang saat sekolah dulu, lebih menakutkan dari sekedar dihukum untuk lari keliling lapangan atau push up. Ia adalah hukuman yang bisa membuat malu. Entah diminta menyanyi di depan kelas, atau meminta tanda tangan ke semua guru yang ada di sekolah.

Bagi saya, #dibuatmalu adalah sebuah aib. Aib yang

Poli-sick (tulisan ini blm selesai)


gambar diambil dari iipx.blogspot.com


Politik? Ah, saya dulu malas sekali mendengar kata politik. Apa itu politik? Saya tidak begitu peduli, “biarkan pemerintah saja yang memikirkannya”. Begitu pikir saya saat itu. Lagian memang, saya punya latar belakang pengetahuan yang negative tentang hukum dan kroninya, tentang pemerintahan orde baru yang mendarah dagingkan korupsi hingga sampai pada masa sekarang yang justru banyak orang yang bilang bahwa itu tidak mungkin bisa dihilangkan. (Dan sampai sekarang pun saya masih mendengar secara langsung budaya ini). 

Iya, betapa dulu ya tinggal manut saja apa kata pemerintah. Apa yang menjadi keputusannya mau tidak mau harus dilaksanakan. Termasuk keputusan tentang naiknya harga diri bumbu dapur. Memang sekarang tidak begitu?

8/31/14

Diskriminasi Sandal Jepit


Belum ada dari sekian banyak acara, baik formal atau pun non formal yang elite, di undangan tertulis dresscode menggunakan sandal jepit. Sandal jepit cuma bisa dipakai hanya di dapur, atau paling banter pas acara tahlilan di masjid. Bukan, bukan karna di agungkan lantaran mau ke rumah Allah, tapi memilih sedikit resiko kerugian yang diterimanya kalau sampai harus kehilangan. Saya yakin yang tidak munafik akan mengiyakan hal ini, hehe... Sandal jepit memang di nomor dua, tiga, empat, bahkan sampai di sekiankan setelah sandal-sandal dan sepatu lain yang bermerek dengan harga yang tentunya juga jauh lebih mahal.

Entah siapa yang memulai menstratakan jenis sendal ini. Memang, hampir semua jenis benda apa pun di dunia ini berjenjang dikelompokkan berdasar

8/28/14

Bukan Mental Pengemis (1)

Meski lama di Semarang, namun ketika ada orang yang bertanya tentang nama sebuah jalan, sering saya lupa mengingat dimana letak jalan itu. Apalagi jika harus menjawab secara langsung. Betapa pun sering, bahkan hampir setiap hari melewati jalan itu, terkadang saya lupa namanya. Lewat ya lewat saja, tanpa peduli apa nama jalan itu, yang penting sampai tujuan. Kecuali jalan-jalan itu adalah jalan penting, atau jalan utama, atau jalan yang menjadi iconnya kota Semarang. Lucu juga ketika seseorang tinggal di kota lumpia bertahun-tahun, tapi ketika ditanya letak jalan Pandanaran, jalan Pahlawan, dan jalan Pemuda tidak tau dimana. Iya, minimal tiga jalan itu yang harus diketahui seseorang ketika tinggal di Semarang. Karena di ketiga jalan itu yang paling sering ditanyakan orang luar kota ketika singgah di Semarang.

Bagi saya, mengingat nama orang yang pernah ada di hati jauh lebih mudah daripada mengingat nama-nama jalan. Agak jauh sih memang perbandingannya. Errr.. Oke, Saya ganti.